Ilmuwan kembangkan Daging Non Hewan


South Carolina - Di sebuah laboratorium kecil, Vladimir Mironov, seorang ahli biologi perkembangan dan insinyur jaringan dari Universitas Kedokteran Carolina Selatan, telah bekerja untuk mengembangkan daging non hewan.

Dr.Mironov, 56 tahun adalah salah satu dari beberapa ilmuwan di seluruh dunia yang terlibat dalam bioteknologi "budidaya" daging selama satu dekade.

Budidaya daging adalah produk yang diklaim bisa membantu mengatasi krisis pangan global di masa depan, akibat menyusutnya jumlah lahan yang tersedia untuk mengembangkan daging dengan cara kuno.

Pertumbuhan "in-vitro" atau budidaya daging sebenarnya juga telah berlangsung di Belanda, namun di Amerika Serikat sebagai ilmu untuk mencari pendanaan dan permintaan daging.

Institut Pangan dan Pertanian Nasional yang baru , bagian dari US Food and Drug Administration (FDA), tidak akan mendanai itu, National Institutes of Health juga tidak mendanai, sedangkan National Aeronautics and Space Administration mau mendanai, namun hanya sebentar.

"Teknologi ini punya gangguan klasik, karena membawa setiap teknologi baru di pasar rata-rata berbiaya US$ 1 milyar, Kami bahkan tidak punya sampai US$ 1 jutapun,"ujar Mironov.

Mironov sekarang mengutamakan melakukan penelitian tentang teknik jaringan atau tumbuh pada organ manusia.

"Ada faktor menyeramkan, ketika orang mengetahui daging tumbuh di lab. Mereka tidak suka teknologi diasosiasikan dengan makanan," kata Nicholas Genovese, seorang sarjana yang mengunjungi laboratorium Dr Mironov.

"Tapi ada banyak produk yang kita makan hari ini yang dianggap alami yang diproduksi dengan cara yang sama," ujar Genovese.

Seperti yoghurt, budidaya ragi, produksi anggur dan produksi bir yang tidak diproduksi di laboratorium dan masyarakat telah menerima produk tersebut.

Jika anggur diproduksi di kilang anggur, bir di tempat pembuatan bir dan roti di toko roti, Mironov telah memberikan nama untuk fasilitas produksi daging masa depannya dengan sebutan "Carnery".

Sebuah gedung berukuran lapangan sepak bola dengan bioreaktor besar, atau bioreaktor ukuran mesin kopi di toko kelontong, untuk memproduksi apa yang dia sebut "charlem", singkatan dari Charleston engineered meat.

Daging ini akan menjadi fungsional, alami, dan dirancang sebagai makanan, bila ingin mencicipi pabrik ini tinggal merancang apa yang Anda inginkan dan kita dapat merancang tekstur dagingnya.

"Saya percaya kita dapat melakukannya tanpa gen Tetapi tidak ada bukti bahwa jika Anda menambahkan gen kualitas makanan entah bagaimana akan menderita.. Genetik makanan diubah sudah berlatih normal dan tidak ada yang mati."

Dr Mironov mengatakan untuk mendapatkan juicy atau daging kualitas, para ilmuwan ingin menambahkan lemak dan menambahkan suatu sistem vaskuler sehingga sel interior dapat menerima oksigen akan memungkinkan pertumbuhan steak, bukan hanya potongan tipis jaringan otot.

Daging budidaya ini nantinya bisa menjadi lebih murah daripada apa yang disebut Genovese, produksi berat bersubsidi untuk daging pertanian, karena masyarakat menerima daging budidaya sebagai manfaat untuk masa depan.

Manfaat lainnya. hampir 30 persen dari luas permukaan tanah bumi dikaitkan dengan memproduksi protein hewani di pertanian, dimana hewan membutuhkan antara 3 dan 8 pon gizi untuk membuat 1 pon daging.

Hal itu dianggap tidak cukup efisien, sebab hewan mengkonsumsi makanan dan menghasilkan limbah, sedangkan daging budidaya tidak memiliki sistem pencernaan.

Nantinya kita memiliki eksplorasi antarplanet, dimana orang akan perlu untuk menghasilkan makanan di ruang angkasa, tanpa harus mengambilnya dari sapi. Kebayang gak?


Suber : http://www.wartanews.com