Monsanto Jadikan RI Basis Produksi Benih Jagung



JAKARTA - Perusahaan benih PT Branita Shandini atau yang lebih dikenal Monsanto menjadikan Indonesia sebagai basis produksi benih unggul di kawasan Asia Tenggara. Untuk tujuan ini, Monsanto menginvestasikan dana sebesar USD40 juta untuk pengembangan benih jagung hibrida dan benih jagung transgenik di Mojokerto, Jawa Timur.

Country Lead Monsanto Indonesia Chris Peterson mengatakan pengembangan benih jagung transgenik tersebut nantinya akan diekspor ke Filipina, Vietnam, dan sejumlah negara di Asia Tenggara lainnya.

“Kami fokus pada pengembangan jagung hibrida untuk pasar di dalam negeri, dan juga jagung hasil transgenik untuk pasar luar,” ujarnya di sela-sela acara "Pemberian bantuan secara simbolis sebesar USD50.000 untuk 400 petani salak dan anak-anak terdampak erupsi Gunung Merapi", di Jakarta, Selasa (25/1/2011).

Dia menyatakan untuk benih jagung dari hasil transgenik sampai saat ini belum dikomersialkan di Indonesia, karena pemerintah masih belum memberikan izin pemasaran benih dari bioteknologi ini. Peterson menargetkan pada 2012, perusahaan sudah dapat merealisasikan ekspor benih jagung ke kawasan Asia Tenggara.

Lebih lanjut dia mengatakan dipilihnya Mojokerto sebagai pusat pengembangan benih hibrida dan transgenik karena di areal di kawasan tersebut sangat cocok untuk pengembangan jagung berkualitas.

Peterson mengatakan dana yang digelontorkan perusahaan digunakan untuk pembangunan infrastruktur berupa pabrik benih dan pengembangan lahan seluas 10 hektare (ha). “Benih jagung yang dihasilkan di Mojokerto ini dibuat agar tahan terhadap hama bulai dan juga tahan terhadap cuaca,” katanya.

Selama ini benih jagung hibrida yang dikembangkan Monsanto banyak dipasarkan di Jawa Timur, Sumatera, dan Nusa Tenggara. Lebih lanjut Peterson menyatakan penggunaan teknologi transgenik menjadi salah satunya cara untuk membantu pemerintah Indonesia dalam rangka memenuhi cadangan pangan khususnya jagung nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengakui penggunaan trangenik menjadi salah satu alternatif penyediaan pangan. Dia mengungkapkan dalam pembahasan di ajang FAO Regional Conference for Asia dan The Pacific di Korea Selatan, penggunaan benih trangenik dijadikan sebagai pokok bahasan. ”Ke depan rekayasa genetika ini akan menjadi salah satu alternatif. Akan tetapi saat ini masih dijadikan penelitian termasuk dampak pada kesehatan manusia,” ujarnya.

Mentan mengatakan upaya yang dilakukan FAO itu diambil karena seluruh dunia sedang menghadapi ancaman perubahan iklim yang tidak menentu. Dia mengatakan dalam pertemuan di Korea tersebut diketahui bahwa negara anggota melaporkan produksi pangan menurun, termasuk juga di dalamnya produksi non beras. Oleh karena itu, kata Suswono, semua kemungkinan untuk mengadaptasi perubahan musim akan dikaji.(Sudarsono/Koran SI/wdi)