Perkembangan Bioteknologi Dunia Saat Ini

Loading...

BIODIVERSITAS Volume 6, Nomor 3 Halaman: 178-180

ISSN: 1412-033X Juli 2005

Optimalisasi Media untuk Jumlah Daun dan Multiplikasi Tunas Lidah Buaya (Aloe vera) dengan Pemberian BAP dan Adenin
Medium optimization for leaf numbers and shoot multiplication of lidah buaya (Aloe vera) by BAP and adenine supplement
LAELA SARI
Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911. Diterima: 15 Juli 2004. Disetujui: 2 Pebruari 2005.

ABSTRACT
Aloe vera of the Aloeaceae is originated from Canary Island (West Africa). This plant is commonly know in Indonesia and cultivated in large fields or in the house yard for many purposes, such as ornamental and medicine plant. The industries using it as the principle raw material has became more important due to the significant benefits of this plant. This study is purposed to obtain the medium optimization for leaf numbers and shoot multiplication of Aloe vera by BAP and adenine supplement. The shoot of Aloe vera was taken from green house of Biotechnology-LIPI. Shoots sterilized by clorox (sodium hypochlorite) solution 35% and 20% for 30 and 15 min. until get aseptic shoot (in vitro plants). The shoot isolated from in vitro plant into MS (Murashige and Skoog) medium in different concentration of BAP and adenine. The research used factorial Completely Randomized Design with two factors (BAP concentration: 0; 0.5; 1; 1.5; 2 mg/L and adenine concentration 0; 10; 20 mg/L) with 5 replicates. The results obtained have showed that addition 20 mg/L adenine to MS raise the numbers of leaf. The shoot multiplication has been augmented by addition of BAP 1 mg/L and adenine 20 mg/L. The results showed that BAP has a positive role in increasing shoot multiplication rate and that adenine has a synergic effect when added together with BAP. 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: optimization, Aloe vera, BAP, adenine, in vitro tissue culture.

PENDAHULUAN Lidah buaya (Aloe vera) merupakan salah satu dari 10 jenis tanaman di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri (Atherton, 1998; Wahjono dan Koesnandar, 2002). Tanaman ini dapat dijumpai di seluruh Indonesia dan umumnya dibudidayakan sebagai tanaman obat keluarga sekaligus tanaman hias pot atau pekarangan. Lidah buaya memiliki daun berwarna hijau berlapis lilin putih, berbentuk agak runcing seperti taji dengan tepi daun bergerigi/berduri kecil. Pemanfaatan lidah buaya sebagai bahan kosmetika dan obat tradisional telah dilakukan sejak 1400 SM, terutama untuk penyubur rambut, penghalus dan pengencang kulit, obat anti inflamasi, anti jamur, anti bakteri dan regenerasi sel. Akhir-akhir ini diketahui bahwa lidah buaya juga berfungsi menurunkan kadar gula darah, obat kanker dan mengontrol tekanan darah, mengatasi stres dan kecanduan, serta merupakan nutrisi pendukung bagi penderita HIV (Atherton, 1998; Pangabean, 2002). Lidah buaya dikenal dengan sebutan the miracle plant (tanaman ajaib), karena dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit (Plaskett, 2000; Sumarno, 2002). Bahan aktif yang dikandungnya antara lain adalah aloin, glukomannan, acemannan, aloe-emodin, aloenin, folocin, asam sinamat, yang memiliki efek farmakologi sebagai anti radang, anti pencahar, anti diabetes, anti kanker, anti inflamatori, dan anti bakteri. Prospek pengembangan tanaman lidah buaya sangat cerah mengingat jenis ini telah
Alamat korespondensi: Jl Raya Bogor Km 46 Cibinong-Bogor 16911 Tel.: +621-8754587. Fax.: +621-8754588. e-mail: laelasari@yahoo.com.

dimanfaatkan dalam bidang kedokteran di 23 negara dan tercantum dalam Daftar Tanaman Obat Prioritas WHO (Anonim, 2000; Tarigans, 2001; Wahjono dan Koesnandar 2002). Multiplikasi lidah buaya biasanya dilakukan melalui pemisahan anakan, stek batang, dan dengan teknik kultur jaringan. Akibat dari perbanyakan vegetatif yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang tersebut, variasi genetik lidah buaya menjadi sempit. Pemuliaan lidah buaya hampir tidak pernah dilakukan, namun silangan alami mungkin dapat ditemukan di daerah pembudidayaan. Untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan bibit, sejalan dengan berkembangnya industri berbahan baku lidah buaya, kiranya perlu dikembangkan teknologi in vitro yang efisien bagi perbanyakan tanaman lidah buaya. Teknik tersebut kelak dapat diterapkan pada varietas terpilih yang berdaya produksi atau mengandung bahan aktif tinggi. Menurut George dan Sherrington (1984) dan Yusnita (2003), kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman baik berupa sel, jaringan atau organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Meskipun pada prinsipnya semua sel dapat ditumbuhkan, sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh seperti anakan atau mata tunas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari media yang optimal bagi pertambahan jumlah daun dan tunas lidah buaya dengan BAP dan adenin pada media MS. BAHAN DAN METODE Bahan tanaman Bahan eksplan berupa tunas pucuk lidah buaya kultivar kecil, tinggi 3-4 cm dari rumah kaca Pusat Penelitian Bioteknologi, LIPI, Cibinong-Bogor.

SARI ­ Optimalisasi media tumbuh Aloe vera

179

Sterilisasi eksplan Tunas pucuk lidah buaya dicuci bersih dengan air mengalir, lalu direndam dalam larutan sabun (sunlight) selama 5 menit dan direndam dalam larutan klorox 35% selama 30 menit. Selanjutnya tunas dicelupkan dalam larutan alkohol 70% selama 2 menit, dan dalam larutan klorox 20% selama 15 menit. Pekerjaan terakhir ini dilakukan dalam laminar air flow cabinet. Setelah itu eksplan tersebut dibilas beberapa kali dengan akuades steril agar bersih dari sisa-sisa klorox dan alkohol. Media tumbuh Media dasar Murashige dan Skoog (MS) (1962), yang dilengkapi dengan gula 30 g/L, agar Gelrite 2,5 g/L serta zat pengatur tumbuh (ZPT) BAP 1 mg/L (media inisiasi) digunakan untuk menginduksi penggandaan tunas in vitro. Tunas yang dihasilkan digunakan sebagai bahan eksplan. Media tersebut diatur keasamannya pada pH 5,7, diberi agar, lalu diautoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 15 menit, kemudian disimpan selama 3 hari untuk mengeliminasi media yang terkontaminasi jamur atau bakteri. Untuk menginduksi penggandaan tunas in vitro lidah buaya, maka dicari kombinasi hormon BAP dan adenin yang optimal (media perlakuan) dalam berbagai konsentrasi (Tabel.1).
Tabel 1. Media perlakuan BAP dan adenin. BAP (mg/L) 0 0,5 1 1,5 2 0 1 4 7 10 13 Adenin (mg/L) 10 2 5 8 11 14 20 3 6 9 12 15

(0; 0,5; 1; 1,5; 2 mg/L) dan konsentrasi adenin (0; 10; 20 mg/L). Pengamatan dilakukan terhadap jumlah daun dan jumlah tunas seminggu sekali sampai data yang diperoleh tidak berubah lagi. Data dianalisis dengan Analisis Sidik Ragam dan Uji Lanjut Tukey pada taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertambahan jumlah daun Hasil analisis data pertambahan jumlah daun pada minggu ke-1 s.d. ke-3, menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata, maka hanya data minggu ke-4 s.d. ke-10 yang ditampilkan. Tahap inisiasi (pada media inisiasi) tidak diamati, yakni minggu ke-1 s.d. ke-4 setelah tanam. Pengamatan dilakukan pada media perlakuan mulai minggu ke-1 s.d ke-10. Dalam waktu 1 minggu tunas yang ditumbuhkan pada media perlakuan, tampak mulai menghijau dan jumlah daunnya bertambah 1-2 helai (awal tanam daun berjumlah 2 helai) sampai minggu ke-8. Pertambahan jumlah daun pada minggu ke-9 s.d. ke-10 tidak berbeda nyata (Tabel 2.), sehingga dilaksanakan pemanenan pada minggu ke-10. Secara umum, perlakuan BAP tidak berpengaruh terhadap pertambahan jumlah daun. Perlakuan 3 (MS + adenin 20 mg/L) menunjukkan hasil yang tertinggi dengan nilai rata-rata 7,8 dibandingkan dengan ke-14 perlakuan lainnya (Tabel 2.). Hal ini diduga karena tanpa penambahan BAP, yang sangat berperan dalam multiplikasi tunas, maka tanaman dapat berkonsentrasi dalam penambahan jumlah daun. Pada perlakuan kontrol/perlakuan 1 (MS tanpa ZPT) jumlah daun juga cukup banyak dengan rata-rata 6,6. Media tanpa BAP (perlakuan 1, 2 dan 3) juga menghasilkan pertambahan jumlah daun yang tinggi, sehingga peran BAP tidak nampak pada pertambahan jumlah daun. Pertambahan jumlah daun rata-rata paling sedikit tampak pada perlakuan MS + 2 mg/L BAP + 10 mg/L adenin dan MS + 2 mg/L BAP + 20 mg/L adenin. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan BAP yang terlalu tinggi (2 mg/L) dapat menghambat pertambahan daun (Tabel 2.). Perlakuan MS + 2 mg/L BAP + 10 mg/L adenin dan MS + 2 mg/L BAP + 20 mg/L adenin tidak meningkatkan jumlah daun (jumlah daun tetap) dari minggu ke-7 s.d. ke-10. Sedangkan pada media MS tanpa BAP (kontrol), MS + adenin 10 dan 20 mg/L jumlah daun meningkat sampai minggu ke-10. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh BAP yang berperan dalam menggandakan tunas lebih kuat, sehingga pada media yang mengandung BAP penggandaan tunas lebih menonjol daripada pertambahan jumlah daun.

Penanaman eksplan Tunas pucuk yang telah disterilkan dibuang daun-daun luarnya, sehingga diperoleh pucuk tunas berukuran ± 1-2 cm. Tunas tersebut ditumbuhkan dalam media tumbuh awal (MS + BAP 1 mg/L), lalu diinkubasikan dalam ruangan bersuhu 25°C yang diberi pencahayaan dari lampu TL selama 16 jam per hari sampai terbentuk tunas baru untuk eksplan, kemudian tunas yang baru (dengan 2 daun) ditumbuhkan kembali pada media tumbuh (Tabel 1). Rancangan penelitian Data penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 ulangan dan pola faktorial (Gasperz, 1991), dengan dua faktor yaitu faktor BAP dan adenin. Perlakuan yang diberikan meliputi konsentrasi BAP

Tabel 2. Pengaruh hormon BAP dan adenin terhadap jumlah pertambahan daun lidah buaya (umur 1-10 minggu). Minggu ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1. Kontrol 3,6 a 4,4 a 4,6 a 5 bcde 5,8 ef 6,2 de 6 cd 6 def 6,6 ef 6,6 ef 2. Adenin 1 3,2a 4,4 a 5,2 a 5,2cde 6f 62 de 6,4 de 6,6 fg 6,4 ef 6,4 ef 3. Adenin 2 3,2a 4,6 a 5 a 5,4 de 6,2 f 6,6 e 7,2 e 7,6 g 7,8 f 7,8 f 4. BAP 0,5 3,4a 3,8 a 4,4 a 5 bcde 5,4cdef 5,2 cd 5,4 bcd 5,4 bcde 5,8 cde 5,8 cde 5. BAP 0,5+ Adenin 1 2,4a 3,8 a 4 a 5,6 e 5,4cdef 5,4 cd 5,4 bcd 5,4 bcde 6 de 6 de 6. BAP 0,5+ Adenin 2 3a 4a 4,4 a 4,4 ab 4,6abc 4,8 abc 4,6 ab 4,6 abc 4,8 abcd 4,8 abcd 7. BAP 1 3,4a 4,4 a 4a 4,6 abc 5 bcde 5 bc 5,2 bc 5,8 bcde 5,6 bcde 5,6 bcde 8. BAP 1+ Adenin 1 3,2 a 3,6 a 3,4 a 4,6 abc 5 bcde 5 bc 5,4 bcd 5,6 cdef 5,6 cde 5,6 cde 9. BAP 1+ Adenin 2 3a 3,6 a 4,2 a 5,4 de 5,6 def 6 de 6,2 de 6,2 ef 6,2 e 6,2 e 10. BAP 1,5 3a 3,8 a 3,6 a 4,4 ab 5 bcde 5 bc 5b 5 bcd 4,6 abc 4,6 abc 11. BAP 1,5+ Adenin 1 3,8 a 4,2 a 4,4 a 4,8abcd 4,8 abcd 4,8 abc 4,8 ab 4,8 abc 4,8 abcd 4,8 abcd 12. BAP 1,5+ Adenin 2 3,4 a 3,8 a 3,8 a 5,2cde 5 bcde 5 bc 5b 5 bcd 4,6 abc 4,6 abc 13. BAP 2 3a 3,8 a 3,8a 4,8 abcd 4,8 abcd 4,8 abc 4,8 ab 4,4 ab 4,2 ab 4,2 ab 14. BAP 2+ Adenin 1 3,4a 4,2 a 4 a 4,4 ab 4a 4a 4a 4a 4a 4a 15. BAP 2+ Adenin 2 3,6 a 4a 4,2 a 4,2a 4,2 ab 4,2 ab 4 a 4a 4a 4a Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak ada perbedaan nyata menurut uji Tukey pada taraf 5%. Perlakuan




TREN DAN PARADIGMA DUNIA FARMASI Industri-Klinik-Teknologi Kesehatan Elin Yulinah Sukandar Departemen Farmasi, FMIPA, Institut Teknologi Bandung



Yang terhormat Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanah ITB, Ketua dan Anggota Senat Akademik ITB, Ketua dan Anggota Majelis Guru Besar ITB, Rektor dan Pimpinan ITB, para undangan, staf akademik ITB, perwakilan mahasiswa ITB, staf non-akademik ITB serta para hadirin yang berbahagia. Assalamua laikum warahmatullahi wabarakatuh., salam sejahtera bagi kita semua. Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Pimpinan ITB atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan pidato ilmiah pada acara dies natalis ITB yang ke 45 yang jatuh pada hari ini, sungguh merupakan kehormatan bagi saya pribadi dan Departemen Farmasi yang sedang dalam proses pembentukan Fakultas Farmasi dan Teknologi Kesehatan Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan Tren dan Paradigma Dunia Farmasi : Industri-Klinik-Teknologi Kesehatan.

Pendahuluan Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan erat dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan. Dalam sejarahnya, pendidikan tinggi farmasi di Indonesia dibentuk untuk menghasilkan apoteker sebagai penanggung jawab apotek, dengan pesatnya perkembangan ilmu kefarmasian maka apoteker atau dikenal pula dengan sebutan farmasis, telah dapat menempati bidang pekerjaan yang makin luas. Apotek, rumah sakit, lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, laboratorium pengujian mutu, laboratorium klinis, laboratorium forensik, berbagai jenis industri meliputi industri obat, kosmetik-kosmeseutikal, jamu, obat herbal, fitofarmaka, nutraseutikal, health food, obat veteriner dan industri vaksin, lembaga informasi obat serta badan asuransi kesehatan adalah tempat-tempat untuk farmasis melaksanakan pengabdian profesi kefarmasian. Pelayanan obat kepada penderita melalui berbagai tahapan pekerjaan meliputi diagnosis penyakit, pemilihan, penyiapan dan penyerahan obat kepada penderita yang menunjukkan suatu interaksi antara dokter, farmasis, penderita sendiri dan khusus di rumah sakit melibatkan perawat. Dalam pelayanan kesehatan yang baik, informasi obat menjadi sangat penting terutama informasi dari farmasis, baik untuk dokter, perawat dan penderita.

1

Pengembangan obat Sejarah penggunaan obat Pada mulanya penggunaan obat dilakukan secara empirik dari tumbuhan, hanya berdasarkan pengalaman dan selanjutnya Paracelsus (1541-1493 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaan obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia

membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya. Hippocrates (459-370 SM) yang dikenal dengan "bapak kedokteran" dalam praktek pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Claudius Galen (200-129 SM) menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja obat yang merupakan bidang ilmu farmakologi. Selanjutnya Ibnu Sina (980-1037) telah menulis beberapa buku

tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup dan menggabungkan pengetahuan pengobatan dari berbagai negara yaitu Yunani, India, Persia, dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik. Johann Jakob Wepfer (1620-1695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan, ia mengatakan :"I pondered at length, finally I resolved to clarify the matter by experiment". Ia adalah orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan. Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai sekarang

merupakan persyaratan sebelum obat diuji­coba secara klinik pada manusia. Institut Farmakologi pertama didirikan pada th 1847 oleh Rudolf Buchheim (1820-1879) di Universitas Dorpat (Estonia). Selanjutnya Oswald Schiedeberg (18381921) bersama dengan pakar disiplin ilmu lain menghasilkan konsep fundamental dalam kerja obat meliputi reseptor obat, hubungan struktur dengan aktivitas dan toksisitas selektif. Konsep tersebut juga diperkuat oleh T. Frazer (1852-1921) di Scotlandia, J. Langley (1852-1925) di Inggris dan P. Ehrlich (1854-1915) di Jerman.

Sumber obat Sampai akhir abad 19, obat merupakan produk organik atau anorganik dari tumbuhan yang dikeringkan atau segar, bahan hewan atau mineral yang aktif dalam penyembuhan penyakit tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik bila dosisnya terlalu tinggi atau pada kondisi tertentu penderita Untuk menjamin tersedianya obat agar tidak tergantung kepada musim maka tumbuhan obat diawetkan dengan pengeringan. Contoh

2

tumbuhan yang dikeringkan pada saat itu adalah getah Papaver somniferum (opium mentah) yang sering dikaitkan dengan obat penyebab ketergantungan dan ketagihan. Dengan mengekstraksi getah tanaman tersebut dihasilkan berbagai senyawa yaitu morfin, kodein, narkotin (noskapin), papaverin dll. yang ternyata memiliki efek yang berbeda satu sama lain walaupun dari sumber yang sama Dosis tumbuhan kering dalam pengobatan ternyata sangat bervariasi tergantung pada tempat asal tumbuhan, waktu panen, kondisi dan lama penyimpanan. Maka untuk menghindari variasi dosis, F.W.Sertuerner (17831841) pada th 1804 mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan sintesis secara kimia. Sejak itu berkembang obat sintetik untuk berbagai jenis penyakit.

Pengembangan obat baru Pengembangan bahan obat diawali dengan sintesis atau isolasi dari berbagai sumber yaitu dari tanaman (glikosida jantung untuk mengobati lemah jantung), jaringan hewan (heparin untuk mencegah pembekuan darah), kultur mikroba (penisilin G sebagai antibiotik pertama), urin manusia (choriogonadotropin) dan dengan teknik bioteknologi dihasilkan human insulin untuk menangani penyakit diabetes. Dengan mempelajari

hubungan struktur obat dan aktivitasnya maka pencarian zat baru lebih terarah dan memunculkan ilmu baru yaitu kimia medisinal dan farmakologi molekular. Setelah diperoleh bahan calon obat, maka selanjutnya calon obat tersebut akan melalui serangkaian uji yang memakan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit sebelum diresmikan sebagai obat oleh Badan pemberi izin. Biaya yang diperlukan dari mulai isolasi atau sintesis senyawa kimia sampai diperoleh obat baru lebih kurang US$ 500 juta per obat. Uji yang harus ditempuh oleh calon obat adalah uji praklinik dan uji klinik.

Uji praklinik

merupakan persyaratan uji untuk calon obat, dari uji ini diperoleh

informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat. Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada reseptor dengan kultur sel terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu menguji pada hewan utuh. Hewan yang baku digunakan adalah galur tertentu dari

mencit, tikus, kelinci, marmot, hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata, hewan-hewan ini sangat berjasa bagi pengembangan obat. Hanya dengan menggunakan

3

hewan utuh dapat diketahui apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau aman. Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi : · · · · Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis Kerusakan genetik (genotoksisitas, mutagenisitas) Pertumbuhan tumor (onkogenisitas atau karsinogenisitas) Kejadian cacat waktu lahir (teratogenisitas)

Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat. Semua hasil pengamatan pada hewan menentukan apakah dapat diteruskan dengan uji pada manusia. Ahli farmakologi bekerja sama dengan ahli teknologi farmasi dalam pembuatan formula obat, menghasilkan bentuk-bentuk sediaan obat yang akan diuji pada manusia. Di samping uji pada hewan, untuk mengurangi penggunaan hewan percobaan telah dikembangkan pula berbagai uji in vitro untuk menentukan khasiat obat contohnya uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji anti mikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi dan lain-lain untuk menggantikan uji khasiat pada hewan tetapi belum semua uji dapat dilakukan secara in vitro. Uji toksisitas sampai saat ini masih tetap dilakukan pada hewan percobaan, belum ada metode lain yang menjamin hasil yang menggambarkan toksisitas pada manusia, untuk masa yang akan datang perlu dikembangkan uji toksisitas secara in vitro.

Setelah calon obat dinyatakan mempunyai kemanfaatan dan aman pada hewan percobaan maka selanjutnya diuji pada manusia (uji klinik). Uji pada manusia harus diteliti dulu kelayakannya oleh komite etik mengikuti Deklarasi Helsinki.

Uji klinik terdiri dari 4 fase yaitu : 1. Fase I , calon obat diuji pada sukarelawan sehat untuk mengetahui apakah sifat yang diamati pada hewan percobaan juga terlihat pada manusia. Pada fase ini ditentukan hubungan dosis dengan efek yang ditimbulkannya dan profil farmakokinetik obat pada manusia. 2. Fase II, calon obat diuji pada pasien tertentu, diamati efikasi pada penyakit yang diobati. Yang diharapkan dari obat adalah mempunyai efek yang potensial dengan

4

efek samping rendah

atau tidak toksik. Pada fase ini mulai dilakukan

pengembangan dan uji stabilitas bentuk sediaan obat. 3. Fase III melibatkan kelompok besar pasien, di sini obat baru dibandingkan efek dan keamanannya terhadap obat pembanding yang sudah diketahui.

Selama uji klinik banyak senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat digunakan. Akhirnya obat baru hanya lolos 1 dari lebih kurang 10.000 senyawa yang disintesis karena risikonya lebih besar dari manfaatnya atau kemanfaatannya lebih kecil dari obat yang sudah ada. Keputusan untuk mengakui obat baru dilakukan oleh badan pengatur nasional, di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, di Amerika Serikat oleh FDA (Food and Drug Administration), di Kanada oleh Health Canada, di Inggris oleh MHRA (Medicine and Healthcare Product Regulatory Agency), di negara Eropah lain oleh EMEA ( European Agency for the Evaluation of Medicinal Product) dan di Australia oleh TGA (Therapeutics Good Administration). Untuk dapat dinilai oleh badan tersebut, industri pengusul harus menyerahkan data dokumen uji praklinik dan klinik yang sesuai dengan indikasi yang diajukan, efikasi dan keamanannya harus sudah ditentukan dari bentuk produknya (tablet, kapsul dll.) yang telah memenuhi persyaratan produk melalui kontrol kualitas. Pengembangan obat tidak terbatas pada pembuatan produk dengan zat baru, tetapi dapat juga dengan memodifikasi bentuk sediaan obat yang sudah ada atau meneliti indikasi baru sebagai tambahan dari indikasi yang sudah ada. Baik bentuk sediaan baru maupun tambahan indikasi atau perubahan dosis dalam sediaan harus

didaftarkan ke Badan POM dan dinilai oleh Komisi Nasional Penilai Obat Jadi. Pengembangan ilmu teknologi farmasi dan biofarmasi melahirkan new drug delivery system terutama bentuk sediaan seperti tablet lepas lambat, sediaan liposom, tablet salut enterik, mikroenkapsulasi dll. Kemajuan dalam teknik rekombinasi DNA, kultur sel dan kultur jaringan telah memicu kemajuan dalam produksi bahan baku obat seperti produksi insulin dll. Setelah calon obat dapat dibuktikan berkhasiat sekurang-kurangnya sama dengan obat yang sudah ada dan menunjukkan keamanan bagi si pemakai maka obat baru diizinkan untuk diproduksi oleh industri sebagai legal drug dan dipasarkan dengan nama dagang tertentu serta dapat diresepkan oleh dokter.

5

4. Fase IV, setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pasca pemasaran (post marketing surveillance) yang diamati pada pasien dengan berbagai kondisi,

berbagai usia dan ras, studi ini dilakukan dalam jangka waktu lama untuk melihat nilai terapeutik dan pengalaman jangka panjang dalam menggunakan obat. Setelah hasil studi fase IV dievaluasi masih memungkinkan obat ditarik dari perdagangan jika membahayakan sebagai contoh cerivastatin suatu obat antihiperkolesterolemia yang dapat merusak ginjal, Entero-vioform (kliokuinol) suatu obat antidisentri amuba yang pada orang Jepang menyebabkan kelumpuhan pada otot mata (SMON disease), fenil propanol amin yang sering terdapat pada obat flu harus diturunkan dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kontraksi jantung yang membahayakan pada pasien yang

sebelumnya sudah mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi , talidomid dinyatakan tidak aman untuk wanita hamil karena dapat menyebabkan kecacatan pada janin, troglitazon suatu obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena merusak hati .

Obat Herbal dan Fitofarmaka . Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki lebih kurang 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan

berkhasiat (180 spesies telah dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional) merupakan potensi pasar obat herbal dan fitofarmaka. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang nDalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya. Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan di negara maju. Menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia) hingga 65% dari penduduk negara maju dan 80 % dari penduduk negara

berkembang telah menggunakan obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi

6

mengenai obat herbal di seluruh dunia. Pada th 2000 diperkirakan penjualan obat herbal di dunia mencapai US$ 60 milyar. WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. Hal ini menunjukkan dukungan WHO untuk back to nature yang dalam hal tertentu lebih menguntungkan. Untuk meningkatkan keselektifan pengobatan dan mengurangi pengaruh musim dan tempat asal tanaman terhadap efek, serta lebih memudahkan dalam standardisasi bahan obat maka zat aktif diekstraksi lalu dibuat sediaan fitofarmaka atau bahkan dimurnikan sampai diperoleh zat murni Di Indonesia, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan industri obat

tradisional, menurut data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan sampai th 2002 terdapat 1.012 industri obat tradisional yang memiliki izin usaha industri yang terdiri dari 105 industri berskala besar dan 907 industri berskala kecil. Karena banyaknya variasi sediaan bahan alam maka untuk memudahkan pengawasan dan perizinan maka Badan POM mengelompokkan dalam sediaan jamu, sediaan herbal terstandar dan sediaan fitofarmaka. Persyaratan ketiga sediaan berbeda yaitu untuk jamu pemakaiannya secara empirik berdasarkan pengalaman, sediaan herbal terstandar bahan bakunya harus distandardisasi dan sudah diuji farmakologi secara eksperimental sedangkan sediaan fitofarmaka sama dengan obat modern bahan bakunya harus distandardisasi dan harus melalui uji klinik. Dalam upaya peningkatan pemanfaatan bahan alam Indonesia yang terjamin keamanannya, Badan POM bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi termasuk ITB sedang meneliti 9 tanaman obat unggulan nasional sampai ke uji klinis. Tanaman tersebut adalah salam, sambiloto, kunyit, jahe merah, jati belanda, temulawak, jambu biji, cabe Jawa dan mengkudu. Dengan melihat jumlah tanaman di Indonesia yang berlimpah dan baru 180 tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh industri maka peluang bagi profesi kefarmasian untuk meningkatkan peran sediaan herbal dalam pembangunan kesehatan masih terbuka lebar. Standardisasi bahan baku dan obat jadi, pembuktian efek farmakologi dan informasi tingkat keamanan obat herbal merupakan tantangan bagi farmasis agar obat herbal semakin dapat diterima oleh masyarakat luas.

7



BIODIVERSITAS Volume 7, Nomor 3 Halaman: 269-272

ISSN: 1412-033X Juli 2006

Pengaruh Komposisi Media dan Ukuran Eksplan terhadap Pembentukan Kalus Embriogenik Beberapa Genotip Lokal Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz)
Effect of medium composition and explant size on embryogenic calli formation of cassava (Manihot esculenta Crantz) local genotypes
DODY PRIADI, ENNY SUDARMONOWATI
Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911 Diterima: 22 April 2006. Disetujui: 10 Juni 2006.

ABSTRACT
Cassava (Manihot esculenta Crantz) is an important tropical crop species used for human consumption, feed and raw material for various industries. Genetic transformation through embryogenic tissues is known as an effective method for cassava genetic improvements. Objective of this study was to obtain a suitable medium and length of explants to induce embryogenic callus on friable embryogenic callus (FEC) as a target for genetic transformation. Immature leaf lobes (1-3 mm, 3-5 mm and larger than 5 mm in length) of local genotypes of cassava (Adira 4. Menti, Iding, Gebang, Rawi and Timtim-29) cultured in vitro were used as explants. The explants were incubated for 2 and 4 weeks on MS (Murashige-Skoog) or GD (Greshooff & Doy) semi solid medium containing 10 mg/L picloram, 6 mg/L NAA supplemented with 4% sucrose and 4 µM CuSO4. Results showed that the highest percentage (100%) of embryogenic calli formation for 4 weeks obtained by culturing Iding of 3-5 mm length on GD semi solid medium, whereas the lowest (33%) one obtained by incubation 5 mm leaf lobe of Timtim-29 on the same medium. The most suitable medium for callus induction was GD, whereas the optimum length of explants was 5 mm or larger. Further study needs to be done to obtain friable embryogenic calli (FEC) by employing different concentration of picloram and varying other critical factors. 2006 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: Manihot esculenta Crantz, cassava, medium, embryogenic, callus.

PENDAHULUAN Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) adalah tanaman daerah tropik yang dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah, bahkan pada tanah yang tidak subur sekalipun (Priadi et al., 2004). Perbanyakan ubi kayu dilakukan secara vegetatif sehingga vigor dan produktivitasnya dapat dipertahankan (Roca et al., 2000). Umbi ubi kayu mengandung sumber karbohidrat (termasuk pati) untuk pangan dan pakan serta untuk bahan baku berbagai macam industri. Berbagai penelitian pemuliaan telah dilakukan untuk memperoleh tanaman ubi kayu unggul yang mempunyai kandungan amilose dan amilopektin yang tepat sesuai dengan tujuannya, baik untuk pangan maupun industri. Salah satu teknik untuk meningkatkan mutu genetik ubi kayu adalah dengan rekayasa genetik. Menurut Zhang et al. (2001), rekayasa genetik ubi kayu mempunyai potensi yang besar untuk melengkapi teknik pemuliaan tradisional dalam menghasilkan bibit yang tahan terhadap hama dan penyakit atau meningkatkan mutu umbinya. Pemuliaan ubi kayu secara tradisional seringkali mengalami kesulitan diantaranya karena heterozigositas yang tinggi dan secara alami mempunyai fertilitas yang rendah (Li et al., 1996). Penelitian in vitro ubi kayu difokuskan diantaranya pada

propagasi klonal dan teknologi transformasi genetik untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan (Thro et al., 1999). Jaringan embriogenik telah digunakan sebagai target transformasi genetik maupun regenerasi tanaman ubi kayu transgenik (Taylor et al., 2001). Kalus embriogenik adalah media yang efektif untuk transformasi genetik melalui teknik particle bombardment maupun Agrobacterium. Joseph et al. (2004) juga menggunakan kalus embriogenik sebagai bahan penelitian induksi mutasi pada ubi kayu melalui iradiasi sinar-. Eksplan yang berasal dari jaringan somatik seperti daun pucuk juga dapat digunakan untuk inisiasi sistem regenerasi tanaman yang efisien, oleh karena itu Szabados et al. (1987) menggunakan tunas pucuk dan daun muda ubi kayu yang berasal dari kultur in vitro sebagai eksplan. Dilaporkan oleh Joseph et al. (2000) bahwa kalus embriogenik juga telah berhasil diinduksi dari daun pucuk muda kerabat ubi kayu penghasil getah yaitu Manihot glaziovii Muell. Arg. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komposisi media dan ukuran eksplan yang tepat untuk induksi kalus embriogenik khususnya friable embryogenic callus (FEC) yang akan digunakan sebagai target transformasi genetik.

BAHAN DAN METODE
Alamat korespondensi: Jl. Raya Bogor Km.46 Cibinong 16911 Tel. +62-21-8754587, Fax. +62-21-8754588 e-mail: d_priadi@telkom.net

Sumber eksplan Genotip ubi kayu yang digunakan sebagai bahan penelitian berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan

270

B I O D I V E R S I T A S Vol. 7, No. 3, Juli 2006, hal. 269-272

bahwa hanya genotip Iding, Gebang dan Menti yang berhasil membentuk kalus, 80 80 sedangkan sisanya belum 60 60 menunjukkan adanya pertumbuhan. Media MS 40 40 maupun GD berhasil menginduksi kalus Gebang, 20 20 tetapi kalus Iding hanya 0 0 berhasil diinduksi pada media MS, sedangkan kalus Menti berhasil diinduksi pada media GD. Pengamatan pertumbuhan kalus setelah 27 Genotipe Genotipe hari inkubasi menunjukkan bahwa hampir semua genotip 1-3 mm 3-5 mm > 5 mm 1-3 mm 3-5 mm > 5 mm ubi kayu dapat membentuk kalus yang berwarna putih Gambar 1. Pembentukan kalus embriogenik dari daun pucuk ubi kayu yang diinduksi pada media A. kekuning-kuningan, kecuali MS dan B. GD pada genotip Adira 4 (60%) yang berasal dari eksplan ditanam di Kebun Plasma Nutfah Puslit Bioteknologi-LIPI, berukuran lebih dari 5 mm yang diinkubasi pada media MS Cibinong, Jawa Barat. Eksplan yang digunakan adalah dan genotip Rawi (42%) dengan ukuran eksplan yang sama daun pucuk yang masih kuncup dalam berbagai macam tetapi diinkubasi pada media GD (Tabel 2 dan Gambar 1). ukuran (1-3 mm, 3-5 mm dan >5 mm) berasal dari stek ubi kayu yang ditumbuhkan secara in vitro pada media MS tanpa zat pengatur tumbuh. Genotip ubi kayu yang Tabel 2. Pengamatan induksi kalus beberapa genotip ubi kayu lokal digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
100
100

Persen (%)

Persen (%)

Gebang

Adira IV

Adira IV

Gebang

Menti

Menti

Rawi

Rawi

Iding

Iding

Tabel 1. Genotip ubi kayu bahan penelitian Genotip Adira 4 Menti Iding Gebang Rawi Timtim 29 Asal koleksi Cibinong, Jawa Barat Wonosari, Jawa Timur Cibinong, Jawa Barat Cibinong, Jawa Barat Balit Tanaman Pangan, Bogor Bobonaro, Timor Timur Peruntukan Industri/pakan Pangan Pangan Pangan Pangan Pangan

Media Eksplan ditanam pada media dengan komposisi berbeda yaitu: Media GD (Gresshoff dan Doy) (Duchefa Biochemie BV) atau MS (Murashige dan Skoog) yang ditambah dengan 10 mg/L picloram, 6 mg/L NAA, 4% sukrosa, 4 µM CuSO4. Sebelum disterilisasi, media diatur pHnya menjadi 5,8 dan dipadatkan dengan 0,8% agar Oxoid No.1. Media disterilisasi menggunakan otoklaf pada suhu 121؛C (1,5 atm) selama 20 menit. Kultur yang menghasilkan kalus berbentuk globular ditransfer ke media yang sama seperti semula tetapi dengan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang lebih rendah, 6 mg/L picloram dan 0,5 mg/L NAA atau ke media MS tanpa zat pengatur tumbuh (MS0). Kultur dipelihara di dalam ruang kultur (25؛C) tanpa cahaya.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh media Pada ubi kayu terdapat dua jenis embriogenesis somatik, yaitu embriogenesis sekunder dan friable embryogenic callus (FEC) (Raemakers et al., 2001). FEC adalah ratusan embrio globular yang terbenam dalam suatu bahan lunak sel-sel hyalin (Lopez et al., 2001). Hasil pengamatan pertumbuhan kalus setelah eksplan diinkubasi ada media MS dan GD selama 2 minggu menunjukkan

Ukuran Eksplan membentuk kalus (%) daun Inkubasi Inkubasi (mm) 2 minggu 4 minggu Adira 4 MS 1-3 * 100 3-5 * 100 >5 * 60 GD 1-3 * 100 3-5 * 100 >5 * 100 Iding MS 1-3 100 100 3-5 100 100 >5 100 100 GD 1-3 0 100 3-5 0 100 >5 0 100 Gebang MS 1-3 100 100 3-5 0 100 >5 100 100 GD 1-3 100 100 3-5 100 100 >5 100 100 Rawi MS 1-3 0 100 3-5 0 100 >5 0 100 GD 1-3 0 100 3-5 0 100 >5 0 42 Menti MS 1-3 0 100 3-5 0 100 >5 0 100 GD 1-3 100 100 3-5 100 100 >5 100 100 Timtim 29 MS 1-3 0 100 3-5 0 100 >5 0 100 GD 1-3 0 100 3-5 0 100 >5 0 100 Keterangan: *) = tidak dilakukan karena sampel terbatas. MS = Basal MS +10 mg/L picloram + 6 mg/L NAA + 4% sukrosa + 4 µM CuSO4. GD = Basal Greshoff dan Doy +10 mg/L picloram + 6 mg/L NAA + 4% sukrosa + 4 µM CuSO4 Genotipe Media

Timtim 29

Timtim 29




Perbaikan Galur Mandul Jantan dan Pemulih Kesuburan melalui Kultur Antera
Iswari S. Dewi, Aniversari Apriana, Ida H. Somantri, A. Dinar Ambarwati, Suwarno, dan Minantyorini
Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

ABSTRAK
Kultur antera merupakan suatu teknik in vitro yang dapat menghasilkan tanam-an haploid ganda homozigot (galur murni) langsung dari tanaman F1 atau ge-nerasi bersegregasi lainnya yang telah diseleksi, sehingga dapat mempercepat siklus pemuliaan. Pada penelitian ini kultur antera tanaman F1 hasil persilangan galur pelestari atau galur pemulih kesuburan dengan varietas unggul dilakukan pada dua -3 media induksi/regenerasi, yaitu media A1-A1R (N6/MS mengandung 10 M putresin) dan media A2-A2R (N6/MS mengandung 2 mg 2,4-D/l). Tujuan penelitian adalah (1) mendapatkan benih dari hasil persilangan galur pelestari atau pemulih kesuburan dengan varietas unggul yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan, yaitu berdaya hasil tinggi serta tahan HPT utama; (2) menda-patkan calon galur pelestari dan pemulih kesuburan yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan tersebut melalui kultur antera. Telah diperoleh benih dari 8 per-silangan galur pelestari dengan varietas unggul, yaitu 218 benih asal IR62829B x Sintanur, 66 benih asal IR58025B x Sintanur, 643 benih asal IR62829B x Ci-herang, 165 benih asal IR58025B x Ciherang, 528 benih asal IR62829B x IR64, 64 benih asal IR58025B x IR64, 360 benih asal IR62829B x Memberamo, dan 74 benih asal IR58025B x Memberamo, sedangkan dari 8 persilangan galur pe-mulih kesuburan dengan varietas unggul, yaitu IR53942R x Ciherang diperoleh 52 benih, IR53942R x IR64 diperoleh 316 benih, IR53942R x Sintanur diperoleh 56 benih, IR53942R x Memberamo diperoleh 297 benih, BR82735R x Ciherang diperoleh 177 benih, BR827-35R x IR64 diperoleh 308 benih, BR82735R x Sintanur diperoleh 91 benih, BR827-35R x Memberamo diperoleh 273 benih. Media A1-A1R lebih efisien dalam menghasilkan jumlah kalus, jumlah tanaman hijau, jumlah tanaman albino, dan jumlah tanaman total dibandingkan dengan media A2A2R. Diperoleh 43 galur Maintainer asal kultur antera tanaman F1 (IR58025B x Sintanur dan IR62829B x Ciherang) dan 55 galur Restorer asal kultur antera tanaman F1 (IR53942R x Ciherang dan BR827-35R x Sintanur). Kata kunci: Padi hibrida, mandul jantan, pemulih kesuburan, kultur antera

ABSTRACT
Anther culture technique was conducted to regenerate doubled haploid plants directly from F1 plants or other selected segregate plant materials. Therefore, this technique can be used to accelerate breeding cycle. In this research, anther culture of F1 from maintainer or restorer lines x varieties were conducted on two induction/regeneration media, namely A1-A1R (induction medium N6/regener-ation medium MS -3 supplemented with 10 M putresin) and A2-A2R (induction medium N6 supplemented with 2 mg/l 2,4-D). The purpose of this research was: (1) to obtain seeds from crossing of maintainer and restorer lines with high yielding varieties having interest good traits, such as high yield, tolerance to biotic and abiotic stresses and good eating quality; (2) to obtain maintainer and restorer lines having the interest traits through anther culture. The results from 8 crosses of maintainer lines x released varieties were 218 seeds from IR62829B x Sintanur, 66 seeds from IR58025B x Sintanur, 643 seeds from IR62829B x Ciherang, 165 seeds from IR58025B x Ciherang, 528 seeds from IR62829B x IR64, 64 seeds from IR58025B x IR64, 360 seeds from IR62829B x Membe-ramo, and 74 seeds from IR58025B x Memberamo, while from restorer lines x released varieties were 52 seeds from IR53942R x Ciherang, 316 seeds from IR53942R x IR64, 56 seeds from IR53942R x Sintanur, 297 seeds from IR53942R x Memberamo, 177 seeds from BR827-35R x Ciherang, 308 seeds from BR827-35R x

226

Dewi et al.: Perbaikan Galur Mandul Jantan

IR64, 91 seeds from BR827-35R x Sintanur, and 273 seeds from BR827-35R x Memberamo. A1-A1R medium was more efficient in the production of calli, plantlet formation from calli, green and albino plantlet and total number of plantlet than A2A2R medium. We obtained 43 maintainer lines originated from anther culture of F1 (IR58025B x Sintanur and IR62829B x Ciherang) and 55 restorer lines originated from anther culture F1 (IR53942R x Ciherang and BR827-35R x Sintanur). Key words: Hybrid rice, male sterile, restorer, anther culture

PENDAHULUAN Indonesia, yang mempunyai lahan sawah irigasi sekitar 5 juta hektar, sangat potensial untuk penerapan teknologi padi hibrida. Potensi hasil padi hibrida yang lebih besar dibandingkan padi nonhibrida (>15-20%) akan membantu di dalam memecahkan permasalahan dalam peningkatan produksi padi (Suprihatno et al., 1994; Yuan, 1994). Saat ini, melalui kerja sama internasional telah diperoleh beberapa galur mandul jantan, yaitu IR58025A, IR62829A, IR68885A, dan IR68889A, galur pemulih kesuburan, yaitu IR53942R dan BR827-35R serta tiga hibrida harapan, yaitu IR56025A/BR827-35, IR58025A/IR53942, dan IR62829A.BR827-35. Pada umumnya, kelemahan yang dimiliki padi hibrida tersebut adalah daya hasil yang tidak stabil serta kerentanannya terhadap hama dan penyakit utama seperti wereng coklat, bakteri hawar daun, blas, dan virus tungro (Suprihatno dan Satoto, 1986; Satoto et al., 1994; Suprihatno et al., 1994; 1998). Padi hibrida merupakan generasi F1 dari persilangan antara galur mandul jantan (cytoplasmic male sterile/CMS line) sebagai tetua betina dengan galur pemulih kesuburan (restorer line) sebagai tetua jantan. Dengan demikian, sifatsifat dari varietas padi hibrida ditentukan oleh sifat-sifat kedua tetuanya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan varietas padi hibrida yang baik, yaitu sesuai dengan kon-disi agroekologi Indonesia dan mempunyai sifat-sifat yang diinginkan, seperti ber-daya hasil tinggi dan stabil serta tahan terhadap hama dan penyakit utama, perlu dilakukan perbaikan terhadap galur tetuanya, yaitu galur mandul jantan dan galur pemulih kesuburan. Beberapa varietas unggul dan galur harapan padi, yang merupakan plasma nutfah sumber ketahanan terhadap hama dan penyakit utama, misalnya tahan terhadap wereng coklat dan bakteri hawar daun selain mempunyai daya hasil tinggi dengan mutu beras baik, antara lain Memberamo, Sintanur, Ciherang, dan IR64. Varietas unggul tersebut dapat digunakan dalam merakit varietas hibrida yang berdaya hasil tinggi dan tahan hama penyakit utama. Galur yang potensial untuk dibuat mandul jantan mempunyai gen yang mengendalikan sterilitas jantan tetapi sitoplasmanya normal sehingga tanaman menjadi fertil. Galur seperti itu disebut sebagai galur pelestari (maintainer line). Persilangan galur pelestari dengan galur/varietas unggul yang mempunyai sifatsifat yang diinginkan merupakan tahapan pertama yang harus dilakukan untuk mem-peroleh galur pelestari yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan tersebut. Selan-jutnya dengan melakukan silang balik dapat diperoleh galur mandul jantan baru dengan kemandulan stabil dan sifat-sifat yang unggul. Sementara itu, galurgalur pemulih kesuburan yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan dapat dipilih

Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman

227

dari hasil persilangan antara galur pemulih kesuburan yang tersedia dengan varietas yang mempunyai ketahanan terhadap hama atau penyakit utama. Untuk mendapatkan galur-galur tetua hibrida dalam waktu relatif singkat dapat digunakan teknologi kultur antera. Kultur antera merupakan suatu teknik in vitro yang dapat menghasilkan tanaman haploid ganda homozigot (galur murni) langsung dari tanaman heterozigos (tanaman F1 atau generasi bersegregasi lainnya yang telah diseleksi). Hal ini tanpa disukarkan oleh hubungan dominan-resesif sehingga dapat mempercepat siklus pemuliaan, karena dapat menghilangkan sebagian besar dari kegiatan seleksi pada setiap generasi yang umum dilakukan pada pemuliaan konvensional (Zapata, 1985; Fehr, 1987; Dewi et al., 1996). Kultur antera sudah diakui sebagai teknologi yang cepat dan sangat efisien dalam perbaikan tanaman. Penggunaan teknik kultur antera di dalam program pemuliaan padi sudah menghasilkan beberapa varietas unggul baru, terutama di Cina (Hu, 1985; Li, 1992) dan Korea (Chung, 1992). Saat ini, teknik kultur antera telah diguna-kan oleh pemulia tanaman padi di Indonesia pada perbaikan tanaman dalam menghadapi cekaman biotik maupun abiotik (Dewi et al., 1996). Teknik kultur antera ini juga telah terbukti berhasil digunakan dalam perakitan padi hibrida hasil silangan antar subspesies (Yan et al., 1996). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan benih tanaman F1 dari hasil persilangan galur pelestari atau pemulih kesuburan dengan varietas unggul yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan, yaitu berdaya hasil tinggi serta tahan HPT utama; serta mendapatkan calon galur pelestari dan pemulih kesuburan yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan tersebut melalui kultur antera tanaman F1. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di rumah kaca dan laboratorium kultur jaringan Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian di Bogor mulai Januari 2002 sampai Desember 2002. Bahan tanaman yang digunakan adalah galur-galur pelestari IR62629B dan IR58025B, galur-galur pemulih kesuburan IR53942R dan BR827-35R serta varietas unggul IR64, Ciherang, Memberamo, dan Sintanur sebagai donor untuk ketahanan terhadap hawar daun bakteri, wereng coklat, dan mutu beras baik (rasa nasi pulen). Untuk perbaikan galur mandul jantan, persilangan dibuat antara galur pelestari dengan varietas unggul untuk menghasilkan tanaman F1. Untuk perbaikan galur pemulih kesuburan, persilangan dibuat antara galur pemulih kesubur-an dengan varietas unggul yang dipilih untuk menghasilkan tanaman F1. Biji F1 (kode M1 dan M2 untuk calon galur pelestari serta kode R1 dan R2 untuk calon galur pemulih kesuburan) disemai dan ditanam dalam ember plastik di rumah kaca untuk mendapatkan antera. Prosedur kultur antera dilakukan dengan metode Dewi et al. (1994). Kultur antera dilakukan dengan menggunakan 2 macam media induksi kalus dan 2 macam media regenerasi, yaitu (a) media A1-A1R: media induksi N6 (Chu, 1978) yang diberi tambahan zat pengatur tumbuh auksin (2,0 mg NAA/l), sitokinin (0,5 mg kinetin/l), poliamin (10-3 M putresin), dan 60,0 g sukrosa/l dengan media regenerasi MS (Murashige dan Skoog, 1962) yang diberi tambahan zat pengatur tumbuh auksin (0,5 mg NAA/l), sitokinin (2,0 mg kinetin/l), poliamin (10-3 M

228

Dewi et al.: Perbaikan Galur Mandul Jantan

putresin), dan 40,0 g sukrosa/l (Purwoko, 2000; Dewi et al. 2001) dan (b) media A2A2R: media induksi N6 yang diberi tambahan zat pengatur tumbuh auksin (2,0 mg 2,4-D/l), dan 50,0 g sukrosa/l dengan media regenerasi MS yang diberi tambahan zat pengatur tumbuh auksin (1,0 mg NAA/l), sitokinin (2,0 mg kinetin/l) dan 30,0 g sukrosa/l (Yan et al., 1996). Pengamatan dilakukan terhadap jumlah benih yang dihasilkan dari setiap hasil persilangan, serta dari hasil kultur antera, yaitu jumlah kalus, jumlah kalus yang menghasilkan tanaman, jumlah tanaman hijau dan albino, jumlah tanaman haploid, dan haploid ganda spontan yang dihasilkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Persilangan Galur Pelestari atau Galur Pemulih Kesuburan dengan Varietas Unggul Persilangan galur pelestari atau galur pemulih kesuburan dengan varietas unggul dapat menghasilkan benih, walaupun keberhasilannya tidak sama (Tabel 1). Dari 16 persilangan, hasil benih terendah, yaitu kurang dari 100 butir dicapai oleh persilangan IR58025B x Sintanur (48 butir), IR58025B x IR64 (64 butir), IR58025B x Memberamo (74 butir), IR53942R x Ciherang (52 butir), IR53942R x Sintanur (56 butir), BR827-35R x Sintanur (91 butir). Kesepuluh persilangan lainnya menghasilkan benih antara 165-643 butir, dengan jumlah benih terbanyak dicapai oleh IR62829B x Ciherang (643 butir). Menurut Watanabe (1997), derajat fertilitas hibrida yang berlainan tersebut ditentukan oleh kesesuaian genetik antar kedua tetuanya. Selanjutnya dipilih dua persilangan saja untuk ditanam dan anteranya di-gunakan sebagai eksplan dalam penelitian kultur antera, yaitu persilangan IR58025B x Sintanur dan IR62829B x Ciherang untuk pembentukan galur pelestari, serta persilangan IR53942R x Ciherang dan BR827-35R x Sintanur untuk pemben-tukan galur pemulih kesuburan. Kultur Antera F1 Hasil Silangan Galur Pelestari atau Galur Pemulih Kesuburan dengan Varietas Unggul Pengaruh media terhadap induksi kalus dan regenerasi tanaman disajikan pada Tabel 2 dan 3. Menurut Razdan (1993) frekuensi induksi kalus dan regenerasi-nya menjadi tanaman dikendalikan oleh banyak gen (gen minor/poligenik). Pada penelitian ini, jumlah kalus dan kalus menghasilkan tanaman yang dihasilkan oleh setiap genotipe berbeda-beda (Tabel 2). Jumlah kalus terbanyak dicapai oleh genotipe R2 (tanaman F1 hasil persilangan BR827-35 R x Sintanur) baik pada media yang diberi putresin (A1-A1R) maupun yang tanpa putresin (A2-A2R). Total kalus menghasilkan tanaman terbanyak juga dicapai oleh genotipe R2. Genotipe tanaman donor memang mempunyai peran penting dalam menentukan frekuensi produksi tanaman melalui kultur antera (Masyhudi et al., 1997; Razdan, 1993; Chung, 1992).

Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman

229

Tabel 1. Hasil benih pada persilangan galur tetua dengan varietas unggul Persilangan Galur pelestari x varietas unggul IR58025B x Memberamo IR58025B x Sintanur IR58025B x Ciherang IR58025B x IR64 IR62829B x Memberamo IR62829B x Sintanur IR62829B x Ciherang IR62829B x IR64 Galur pemulih kesuburan x varietas unggul IR53942 R x Ciherang BR 827-35 R x Ciherang IR53942 R x Sintanur BR 827-35 R x Sintanur IR53942 R x IR64 BR827-35 R x IR64 IR53942 R x Memberamo BR827-35 R x Memberamo R1 R2 52 177 56 91 316 308 297 273 Kode silangan M1 M2 Jumlah benih (butir) 74 48 165 64 613 218 643 528

- = belum diberi kode silangan karena belum digunakan untuk kultur antera

Rasio auksin-sitokinin yang lebih tinggi diperlukan saat menginduksi kalus dan sebaliknya saat meregenerasikan kalus menjadi tanaman. Kombinasi 2,4-D atau NAA dan kinetin sering digunakan untuk meregenerasikan tanaman dari kalus pada kultur mikrospora padi indica (Cho dan Zapata, 1990). Dari penelitian ini, media yang diberi NAA dikombinasikan dengan kinetin dan ditambah putresin (A1-A1R) menghasilkan jumlah kalus yang lebih tinggi (4418 butir) dibandingkan de-ngan media A2-A2R (mengandung 2,4-D) yang tanpa putresin (2641 butir). Demi-kian pula total kalus menghasilkan tanaman pada media A1-A1R (554 butir) lebih tinggi dibandingkan dengan media A2-A2R (200 butir). Penelitian Purwoko (2000) dan Dewi et al. (2001) menunjukkan bahwa penambahan putresin pada media N6 dan MS menghasilkan induksi kalus dan regenerasi tanaman hijau yang lebih baik dibandingkan dengan jenis poliamin lainnya. Jumlah kalus yang dapat menghasilkan tanaman lebih sedikit dibandingkan jumlah kalus yang dihasilkan (Tabel 2), yaitu berkisar antara 5,97-16,46% (Tabel 3). Hal ini diduga karena tahap perkembangan butir tepung sari tidak seragam, walaupun praperlakuan dingin pada malai telah dilakukan. Suhu rendah (5+2oC) selama 8-11 hari dapat menyeragamkan stadia perkembangan butir tepung sari (Dewi et al., 1994). Tahap perkembangan butir tepung sari yang optimum untuk kultur antera adalah pada tahap pertengahan sampai akhir uninukleat (Chung, 1992). Pada kultur antera padi, praperlakuan pada malai sebelum antera dikulturkan terbukti dapat meningkatkan perubahan mikrospora yang semula pada lintasan gametofitik menjadi sporofitik atau androgenesis (Zapata et al., 1983) Pada penggunaan kultur antera untuk perbaikan tanaman, banyaknya tanaman hijau yang dapat diregenerasikan amat penting, karena jumlah tanaman hijau yang banyak akan mempercepat atau memperbesar kemungkinan bagi pemulia tanaman untuk memperoleh galur murni yang diinginkan (Purwoko, 2000).

230

Dewi et al.: Perbaikan Galur Mandul Jantan



  • href="http://www.payooclub.com/pages/index.php?refid=hasan7226">payooclub.comborder="0"
    src="http://www.payooclub.com/images/banner.gif"/>











  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Gabung disini
  • Jurnal Natur Indonesia 6(2): 75-80 (2004) ISSN 1410-9379

    Isolasi dan identifikasi bakteri probiotik ikan Kerapu Macan

    75

    Isolasi dan Identifikasi Bakteri Probiotik dari Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogatus) dalam Upaya Efisiensi Pakan Ikan
    Feliatra1,2, Irwan Efendi2, Edwar Suryadi3
    2

    Dosen Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan, Universitas Riau, Pekanbaru 28293 Laboratorium Mikrobiologi Laut, Faperika, Universitas Riau, Pekanbaru 28293 3 Alumni Faperika, Universitas Riau, Pekanbaru 28293
    1

    Diterima 30-2-2004

    Disetujui 18-04-2004

    ABSTRACT
    Observation of probiotic bacteria on the digestive tract of Ephinephelus fuscogatus has been conducted from Februari to April 2003 in Marin Microbiology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Science, University of Riau. The isolation and identification of bacteria was carried out through morphology and biochemistry tests. The result of the study indicated that probiotic bacteria in the digestive tract of Ephinephelus fuscogatus composed by Lactococcus sp., Carinoacterium sp., Staphylococcus sp., Bacillus sp., Eubacterium sp., Pseudomonas sp., Lactobacillus sp., and Micrococcus sp. Keywords: probiotic, gastrointestinal, E. fuscogatus, isolation, identification.

    PENDAHULUAN
    Problema efisiensi pakan pada dunia perikanan sudah sejak lama dan sampai sekarang masih dirasakan. Harga bahan pembuat pakan yang semakin tinggi dan sukar diperoleh, karena sebagian terpaksa diimpor, menyebabkan gangguan ini semakin dominan. Makanan terbuang dan tidak sempat dikomsumsi ikan memang tidak akan pernah terelakkan, karena memang kondisi alam berupa air dan juga tingkah laku ikan itu sendiri. Akan tetapi makanan atau nilai nutrisi yang terbuang padahal sudah dimakan oleh ikan, tentu teramat disayangkan. Prinsip dasar kerja probiotik adalah pemanfaatan kemampuan mikroorganisme dalam memecah atau menguraikan rantai panjang karbohidrat, protein dan lemak yang menyusun pakan yang diberikan. Kemampuan ini diperoleh karena adanya enzimenzim khusus yang dimiliki oleh mikroba untuk memecah ikatan tersebut. Enzim tersebut biasanya tidak dimiliki oleh ikan dan makhluk air lainnya. Kalaupun ada kuantitas dan kualitasnya dalam jumlah terbatas. Pemecahan molekul-molekul kompleks ini menjadi molekul sederhana jelas akan mempermudah pencernaan lanjutan dan penyerapan oleh saluran pencernaan ikan. Di sisi lain, mikroorganisme pelaku pemecah ini mendapat keuntungan berupa energi yang diperoleh dari hasil perombakan molekul kompleks tersebut (Effendi 2002). Selanjutnya dinyatakan, hubungan simbiosis

    mutualisme tidak mustahil ada di ekosistem perairan. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi mikroorganisme di dalam usus ikan mencapai 107 sel per gram isi usus. Sebagian dari mereka merupakan penghuni sejati usus, mereka dapat tumbuh dan berkembang biak pada usus tersebut. Probiotik merupakan makanan tambahan berupa sel-sel mikroba hidup, yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi hewan inang yang mengkonsumsinya melalui penyeimbangan flora mikroba intestinalnya (Fuller 1987). Selanjutnya Verschere et al, (2000) menyatakan bahwa probiotik sebagai penambah mikroba hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi komunitas mikroba lingkungan hidupnya. Pendapat lain oleh Salminen et al, (1999) bahwa probiotik merupakan segala bentuk preparasi sel mikroba atau komponen sel mikroba yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi kesehatan dan kehidupan inang. Pada saat memilih mikroorganisme yang akan dijadikan probiotik, persyaratan yang harus dimiliki oleh mikroba probiotik antara lain adalah (Feliatra 2002); 1) tidak bersifat patogen atau mengganggu inang, tidak bersifat patogen bagi konsumen (manusia dan hewan lainnya), 2) tidak mengganggu keseimbangan ekosistem setempat, 3) mikroba tersebut hendaklah dapat dan mudah dipelihara dan diperbanyak, 4) dapat hidup dan bertahan serta berkembang biak di dalam usus ikan, 5) dapat

    76

    Jurnal Natur Indonesia 6(2): 75-80 (2004)

    Feliatra, et al. (NaCl 0,9%) pada pH 2, dengan tujuan hanya bakteri probiotik yang dapat tumbuh dan berkembang pada pH tersebut. Selanjutnya dilakukan penanam bakteri pada media kulur TSA. Setelah diperoleh koloni yang mampu hidup pada media bakteri heterotrof, maka setiap koloni yang diperoleh dibuat tiga ulangan. Akhirnya dari beberapa kali pengulangan, minimal lima kali ulangan untuk setiap strain, ditemukan isolat murni dari bakteri heterotrof yang potensi sebagai probiotik. Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi isolat. Penyimpanan koloni bakteri dilakukan pada suhu 40C dan siap untuk digunakan pada pengujian selanjutnya. Identifikasi bakteri dilakukan terhadap isolatisolat yang diperoleh dengan berpedoman pada buku Bergey's Determinative Bacteriology (Holt et al, 1994) dengan melakukan serangkaian uji morfologi dan biokimia yaitu uji pewarnaan Gram, uji motilitas, pengamatan bentuk sel, tipe penggandengan sel, sifat aerobik dan anaerobik, kemampuan tumbuh pada suhu 50C, 200C, dan 300C. Pengamatan dilakukan juga pada warna koloni, ukuran koloni, bentuk koloni yang dilihat dari dalam, samping dan atas, kemampuan memproduksi katalase dan oksidase, uji halofilik dan oksidase sitokrom untuk menentukan genus bakteri heterotrof yang didapat dari ikan kerapu macan.

    dipelihara dalam media yang memungkinkan untuk diintroduksikan ke dalam usus ikan, dan 6) dapat hidup dan berkembang di dalam air wadah pemeliharaan ikan. Ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscogatus) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, karena sangat disukai di dalam maupun di luar negeri seperti negaranegara Asean, Hongkong, Cina, dan Jepang. Budidaya ikan ini sangat potensial akan tetapi masih terkendala dengan rentannya penyakit terutama oleh bakteri dan pertumbuhannya relatif agak lambat.

    BAHAN DAN METODE
    Penelitian ini dilaksanakan pada FebruariApril 2003. Metode yang digunakan adalah metode survei, dengan mengamati bakteri probiotik pada sampel organ pencernaan ikan kerapu macan. Sampel udang windu yang digunakan berukuran 250400 g diperoleh di Loka Budidaya Laut Batam. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah media agar non selektif TSA (Tryptone Soya Agar), Difco, MR-VP Broth, reagen methyl red, TSI (Triple Sugar Iron) agar, bahan untuk uji pewarnaan Gram (crystal violet, lugol iodine, safranin, etil alkohol 95%, dan aquades), hydrogen peroksida (H2O2), larutan naftol (1 g per 100 ml etil alkohol) dan larutan phenilendiamin (1 g per 100 ml air destilasi). Alat-alat yang digunakan antara lain: inkubator, autoklaf, erlenmeyer, pemanas, alumunium foil, lampu Bunsen, cawan petri, neraca Ohauss dengan ketelitian 0,1 g, gelas ukur, tabung reaksi, kapas, motor steril, pipet (0,1, 1,0 dan 10 ml) dan pro pipet, janke dan kunkel, mikroskop binokuler,gelas objek, glass speader, jarum oase dan colony counter. Analisis dan identifikasi bakteri pada sampel dilakukan di laboratorium mikrobiologi laut. Ikan kerapu macan dibedah secara aseptis untuk diambil organ pencernaannya (lambung dan usus) lalu dimasukkan ke dalam larutan fisiologis

    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa bakteri yang diisolasi dari usus dan lambung ikan kerapu macan dapat tumbuh dan berkembang pada media kultur TSA dengan pH 2, yang merupakan indikator utama bakteri probiotik. Koloni bakteri yang tumbuh pada media terdapat dalam berbagai macam bentuk, warna, tepian, ukuran, dan permukaan koloni (elevasi) yang berbeda. Dari hasil pengamatan morfologi ditemukan 9 isolat bakteri pada pencernaan ikan kerapu macan yaitu BPa, BPb, BPc, BPd, BPe, BPf, BPg, BPh dan BPi. Masing-masing isolat memiliki morfologi yang

    Tabel 1. Morfologi bakteri yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan kerapu macan. Pengamatan Isolat Bakteri BPa BPb BPc BPd BPe Bentuk sel BL BT BL BT BT Pergandengan sel D M M S D Tipe Koloni B3 BTB BTT BTSW BTK Warna Koloni PS PS PS PS PS

    BPf BT D TBM PS

    BPg BT M BTSW PS

    BPh BL D BTT K

    BPi BT D BTT K

    BL: bulat, BTB: bulat tepian berlekuk, BTK: bulat tepian keriput, BT: batang, BTT: bulat tepian timbul, TBM: tak beraturan menyebar, B3: bulat, besar dan bundar, BTSW: bulat tepian spt wol, PS: putih susu, K: kuning, D: diplo, M: mono, S: stepto.

    Isolasi dan identifikasi bakteri probiotik ikan Kerapu Macan berbeda satu sama lain, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. Setelah pemurnian isolat bakteri dan dilanjutkan dengan pengamatan morfologi dan biokimia, maka diperoleh beberapa isolat bakteri probiotik yang terdapat di dalam usus dan lambung ikan kerapu macan. Identifikasi dari isolat merujuk pada Holt et al, (1994) yaitu sebagai berikut: Isolat BPa (genus Lactococcus). Bakteri yang mendekati genus ini mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih susu atau agak krem, bentuk koloni bundar atau bulat besar, sel berbentuk bola yang berukuran 0,5-1,2 x 0,5-1,5 µm, berpasangan dan membentuk rantai pendek dalam media cair, endospora tidak terbentuk, Gram +, tidak motil. Kemampuan untuk menghasilkan katalase dan oksidase adalah negatif, sedangkan uji metil red memberikan hasil positif. Suhu optimum untuk pertumbuhan bakteri genus ini adalah 30-370C dan dan tumbuh baik pada 1-3% NaCl. Menurut .(Holt et al, 1994), bakteri ini tergolong bakteri Gram +, fakultatif anaerob, tidak motil, tanpa kapsul, kemampuan memproduksi katalase dan oksidase negatif, tumbuh pada suhu 100C, optimum pada suhu 300C tapi tidak dapat tumbuh pada suhu 450C, tumbuh baik dengan 0,5% NaCl. Bakteri ini memanfaatkan senyawa kimia dengan menguraikannya secara fermentasi. Salah satunya adalah memfermentasikan karbohidrat dengan produk yang dihasilkan sebagian besar adalah L (+) asam laktat tapi tidak dalam bentuk gas. Untuk pertumbuhannya, bakteri ini memerlukan syarat-syarat gizi yang lengkap. Biasanya banyak terdapat di pabrik pengolahan susu dan produk makanan dari tumbuh-tumbuhan. Pemanfaatan zat kimia dengan penguraian secara fermentative, salah satunya karbohidrat yaitu memfermentasi dengan memproduksi sebagian besar L (+) asam laktat tapi tidak dalam bentuk gas. Sifat lainnya adalah katalase negatif dan oksidase negatif. Bakteri ini tumbuh pada suhu 100C, optimum pada suhu 300C tapi tidak dapat tumbuh pada suhu 450C, dan tumbuh baik dengan 0,5% NaCl. Bakteri ini biasanya banyak terdapat pada pabrik pengolahan susu dan produk makanan dari tumbuh-tumbuhan. Isolat BPb (genus Carnobacterium). Bakteri yang mendekati genus ini mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih susu

    77

    atau agak krem, bentuk koloni bulat, tepian berlekuk, sel lurus, batang ramping, berukuran 0,5-0,7 x 1,02,0 µm, berbentuk tunggal atau dalam bentuk pasangan dan kadang-kadang dalam bentuk rantai yang pendek, Gram + dan dapat bergerak atau motil. Carnobacteria adalah katalase negatif, oksidase positif, metil red positif, tumbuh optimum pada suhu 300C dan tumbuh baik pada NaCl 1-7%. Menurut Holt et al, (1994), bakteri ini Gram +, dapat atau tidak dapat bergerak dan tidak berspora, produksi kimia dengan heterofermentatif, memproduksi sebagian besar L (+) laktat dari glukosa. Mereka tumbuh pada 100C tapi tidak dapat tumbuh pada suhu 450C dan optimum pada suhu 300C. Bakteri ini adalah katalase negatif dan oksidase positif dan tidak menghasilkan nitrat. Sel terdapat dalam produk daging dan ikan. Salah satu spesiesnya, yaitu C. piscicola, adalah patogen pada ikan salmon (Zulkifli 2001). Isolat BPc (genus Staphylococcus). Bakteri yang mendekati genus ini mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih susu atau agak krem, bentuk koloni bulat, tepian timbul, sel bentuk bola, diameter 0,5-1,5 µm, terjadi satu demi satu, berpasangan, dan dalam kelompok tidak teratur, Gram +, tidak motil, katalase positif, oksidase negatif, metil red positif, tumbuh optimum pada suhu 30-370C dan tumbuh baik pada NaCl 1-7%. Menurut Holt et al, (1994), bakteri Staphylococcus sp. Gram +, tidak berspora, tidak motil, fakultatif anaerob, kemoorganotrofik, dengan dua pernapasan dan metabolisme fermentatif. Koloni biasanya buram, bisa putih atau krem dan kadang-kadang kuning keorangeorangean. Bakteri ini katalase positif dan oksidase negatif, sering mengubah nitrat menjadi nitrit, rentan lisis oleh lisostafin tapi tidak oleh lisozim. Biasanya tumbuh dengan 10% NaCl. Sebagian besar terdapat pada kulit dan mukosa membran dari vertebrata berdarah panas. Akan tetapi sering diisolasi dari produk makanan, debu dan air. Beberapa spesies ada yang patogen pada manusia dan hewan. Isolat BPd (genus Lactobacillus). Bakteri yang mendekati genus ini mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih susu atau agak krem, bentuk koloni bulat dengan tepian seperti wol. Sel berbentuk batang dan biasanya tetap, berukuran 0,5-1,2 x 1,0-10,0 µm. Mereka biasanya berbentuk batang panjang tapi kadang-kadang hampir





  • href="http://www.payooclub.com/pages/index.php?refid=hasan7226">payooclub.comborder="0"
    src="http://www.payooclub.com/images/banner.gif"/>











  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Gabung disini


  • Purifikasi dan Karakterisasi Protease Yang Dihasilkan Lactobacillus acidophilus dalam Fermentasi Susu Sapi Perah
    (Purification and Characterization of Protease Lactobacillus acidophilus in Fermented Milk)

    Oleh: Wendry Setiyadi Putranto,SPt.,MSi.

    Disampaikan pada: Seminar Nasional Bioteknologi " Capturing Opportunities through Biotechnology" Pusat Penelitian Bioteknologi ­ LIPI 15-16 November 2006

    Purifikasi dan Karakterisasi Protease Yang Dihasilkan Lactobacillus acidophilus dalam Fermentasi Susu Sapi Perah
    (Purification and Characterization of Protease Lactobacillus acidophilus in Fermented Milk) Wendry Setiyadi Putranto Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung

    ABSTRAK Enzim protease dengan aktivitas proteolitik yang rendah telah dimurnikan dengan kromatografi yang konvensional dari Lactobacillus acidophilus. Enzim tersebut memiliki aktivitas optimum pada pH 5,5 pada suhu 370C. Pemurnian enzim dengan pengendapan amonium sulfat 45% dan kromatographi kolom dengan Sephadex G-100. Aktivitas protease dihambat oleh pengkelat logam dengan konsentrasi 1 mM dan 5 mM ethylenediamine tetraacetic acid (EDTA). Berat molekul diukur dengan sodiumdodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis adalah 72 kD. Kata kunci : aktivitas proteolitik, pemurnian,

    ABSTRACT A proteolytic with low activation was purified by conventional chromatographic techniques from Lactobacillus acidophilus. The pH optimum of the enzymes was 5,5 at 370C. The enzymes was purified using 45% ammonium sulfate precipitation and column chromatography using Sephadex G-100. The protease activity was inhibited by chelating agent at the concentrations as follows: 1 mM and 5 mM ethylenediamine tetraacetic acid (EDTA). The molecular weight value as determined by sodiumdodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis was 72 kD. Key words : proteolytic activation, purification

    Pendahuluan Protease merupakan enzim yang sangat penting dalam industri pangan maupun non pangan. Pemanfaatan protease dalam industri pangan diantaranya adalah untuk mengurangi kekeruhan dalam industri bir, mengurangi gluten pada industri roti, dan untuk menggumpalkan susu pada industri keju. Enzim protease dapat diperoleh dari jaringan tanaman, hewan, maupun mikroba. Keterbatasan kemampuan hewan dan tumbuhan dalam memenuhi permintaan protease, telah mendorong berkembangnya protease mikroba. Mikroba memiliki peran penting sebagai penghasil protease karena memiliki beberapa keunggulan antara lain, mikroba memiliki siklus hidup yang singkat, efisiensi waktu dan tempat, produktivitas tinggi dan memudahkan kita untuk melakukan manipulasi genetik (melalui rekayasa genetika mikroba) maupun manipulasi dalam proses fermentasi (rekayasa bioproses). Mikroba yang telah dikembangkan secara komersial sebagai penghasil protease antara lain Bacillus licheniformis, Bacillus stearothermophilus, Bacillus pumilus, Aspergillus oryzae, dan Aspergillus niger. Lactobacilus acidopillus merupakan kelompok bakteri asam laktat (BAL) "friendly bacteria" yang merupakan kelompok bakteri yang banyak dimanfaatkan dalam industri fermentasi susu, baik dalam pembuatan yoghurt maupun keju. Bakteri tersebut mempunyai kemampuan menghidrolisis kasein yang ada pada susu dengan mengekskresikan enzim proteolitik. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui karakter biokimia protease intra seluler dari beberapa bakteri asam laktat seperti Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, sedangkan karakter biokimia protease intra seluler maupun ekstraseluler dari Lactobacilus acidopillus belum banyak dilakukan terutama untuk isolat yang berasal dari Indonesia. Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang karakter biokimia dari protease ekstraseluler dari acidopillus PAGE. secara kuantitatif maupun kualitatif Lactobacilus menggunakan metoda SDS

    Metode Penelitian Strain Bakteri Asam Laktat yang digunakan adalah Lactobacilus acidopillus, media propagasi menggunakan MRS broth, sedangkan media produksi menggunakan susu sapi perah. Lactobacilus acidopillus dari media padat diinokulasikan pada media propagasi MRS broth (10 ml) inkubasi 37 0C,

    dilakukan pengamatan pertumbuhannya pada dengan spektrofotometer (600 nm) Selanjutnya sebanyak 2% (v/v) diinokulasikan pada media susu sapi perah (UHT). Pengambilan sampel dilakukan tiap jam terhadap kedua media produksi tersebut, dilakukan pengamatan pertumbuhan mikrobanya, dan pengukuran aktivitas protease (Walter,1984) serta kadar protein (Bradford,1978). Pengukuran densitas bakteri pada media produksi susu sapi perah. Sebanyak 1 ml sampel ditambahkan 9 ml EDTA (2g/l,pH 12) selanjutnya dilihat absorbansinya pada 600 nm ( Metoda Kanasaki ) Isolasi protease intra seluler Lactobacilus acidopillus Sampel disentrifugasi 12000 g, pada suhu 40C, selama 15 menit. Supernatan yang didapat merupakan enzim protease kasar selanjutnya dianalisis kadar protein dan aktivitas proteplitiknya. Isolasi protease ekstraseluler Lactobacilus acidopillus Crude extract ektraseluler protease diperoleh dengan memisahkan media (susu sapi perah) dengan sel bakteri, dialkukan sentrifugasi 12000 g, supernatant yang diperoleh dilakukan pengukuran aktivitas protease (Walter,1984) serta kadar protein (Bradford,1978). Pengendapan dengan Amonium sulfat Untuk menggumpalkan protein, supernatan hasil sentrifugasi ditambahkan ammonium sulfat sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan magnetic stirrer dengan konsentrasi (30%, 40%, 45%, 60%) dan dibiarkan selama satu malam

    pada suhu 40C. Selanjutnya disentrifugasi 10000 rpm, suhu 4 0C, selama 15 menit. Pelet yang diperoleh diresuspensikan dengan buffer Tris-HCl 10 mM pH 8, kemudian dilakukan pengujian aktivitas proteasenya dengan metode Walter (1984) dan penentuan kadar proteinnya dengan metode Bradford (1976). Dialisis Dialisis dilakukan untuk menghilangkan kadar garam yang tersisa dari proses pengendapan dengan ammonium sulfat menggunakan kantong dialisis. Kantong diikat dengan benang jahit, lalu dimasukkan 10 ml larutan enzim, dan kemudian ujung lain diikat dengan benang. Kantung dimasukkan dalam larutan Tris HCl 20 mM dengan volume 100 kali volume filtrat dan diagitasi secara perlahan pada suhu 40C selama 1 jam. Setelah 30 menit bufer diganti dengan bufer segar. Enzim hasil dialisis dipekatkan menjadi setengah volume dengan freeze dryer dan disimpan pada suhu 40C untuk segera dilakukan kromatografi filtrasi gel. Kromatografi Filtrasi Gel Kolom kromatografi filtrasi gel Sephadex G-100 diekuilibrasi dengan mengalirkan bufer Tris HCL 10 M sebanyak 200 ml dan didiamkan selama semalam pada suhu 4 0C. Larutan protease sebanyak 2 ml dimasukkan dengan pipet secara perlahan kedalam kolom tepat di atas permukaan gel. Enzim dibiarkan mengalir perlahan sampai seluruh enzim berada dibawah permukaan gel. Kolom diisi dengan pengelusi yaitu bufer Tris HCl 10 mM pH 8. Fraksinasi sebanyak 20 fraksi sebanyak 70 tetes pada masing-masing fraksi menggunakan fraction collector. Setiap fraksi diukur aktivitas protease dan kadar proteinnya. Pengukuran konsentrasi protein (Bradford, 1976) Konsentrasi protein diukur dengan menggunakan standar protein Bovine Serum Albumin (BSA) dengan konsentrasi 0,1 hingga 1 mg/ml. Sebanyak 100 l sampel ditambah 5 ml pereaksi Bradford, selanjutnya dihomogenkan dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C dan kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada 595 nm. Pengukuran Aktivitas Protease (Walter,1984)





  • href="http://www.payooclub.com/pages/index.php?refid=hasan7226">payooclub.comborder="0"
    src="http://www.payooclub.com/images/banner.gif"/>











  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Gabung disini

  • BIODIVERSITAS Volume 7, Nomor 1 Halaman: 15-17

    ISSN: 1412-033X Januari 2006

    Isolasi dan Uji Resistensi Beberapa Isolat Lactobacillus pada pH Rendah
    Isolation and resistance test of several isolates of Lactobacillus in low pH
    RIANI HARDININGSIH, ROSTIATI NONTA REFINA NAPITUPULU, TITIN YULINERY
    Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor 16002. Diterima: 15 Juli 2005. Disetujui: 4 Desember 2005.

    ABSTRACT
    Several isolates of Lactobacillus had been isolated from Indonesian fermented foods. Four isolates where isolated from tongcai (TT2), saguer drink (Sg.Mnd.N2), pindang ikan selar (PSl1) and sawi asin (S5) had been used in this research. The aim of the research was to get Lactobacillus isolates as probiotic candidate and to know its resistance to low pH. The treatment were several concentration of low pH of MRS broth medium, i.e. 2; 2.5; 3; and 6.5 (optimal pH). The optical density (OD) was measured after 24, 48, 72, and 96 hours respectively, with three replication by using spectrophotometer ( = 600 nm). The results showed that all Lactobacillus isolates (i.e. TT2, Sg.Mnd.N2, PSl1, and S5) could been used as probiotic candidate because they were resistant to all of low pH used. © 2006 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: low pH, Lactobacillus, probiotic.

    PENDAHULUAN Lactobacillus termasuk golongan bakteri asam laktat yang sering dijumpai pada makanan fermentasi, produk olahan ikan, daging, susu, dan buah-buahan (Napitupulu et al., 1997). Sejauh ini telah diketahui bahwa keberadaan bakteri ini tidak bersifat patogen dan aman bagi kesehatan sehingga sering digunakan dalam industri pengawetan makanan, minuman dan berpotensi sebagai produk probiotik. Sifat yang menguntungkan dari bakteri Lactobacillus dalam bentuk probiotik adalah dapat digunakan untuk mendukung peningkatan kesehatan. Bakteri tersebut berperan sebagai flora normal dalam sistem pencernaan. Fungsinya adalah untuk menjaga keseimbangan asam dan basa sehingga pH dalam kolon konstan. Cartney (1997) melaporkan bahwa bakteri probiotik menjaga kesehatan usus, membantu penyerapan makanan, produksi vitamin, dan mencegah pertumbuhan bakteri patogen. Selain itu dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, metabolisme kolesterol, karsinogenesis, dan menghambat penuaan. Heprer et al., (1979) menyatakan bahwa pemberian suplemen yoghurt selama satu minggu, dapat menurunkan serum kolesterol pada manusia. Yoghurt dan susu menurunkan kolesterol setelah menginduksi hypercholesterolemia kelinci. Yoghurt lebih besar memberi pengaruh dari pada susu. Lactobacillus mempunyai potensi yang besar sebagai produk probiotik karena keunggulannya dibanding bakteri asam laktat lainnya (Davis dan Gasson. 1981; Muriana dan Klaenhammer, 1987). Selanjutnya Annonym (2000) mengatakan bahwa Lactobacillus plantarum dan L. casei dapat aktif pada pH rendah dan menghasilkan asam laktat

    dalam jumlah banyak sehingga pada makanan ternak dapat membantu menyimpan energi. Napitupulu et al. (2000) melaporkan bahwa Lactobacillus menghasilkan anti bakteri. Filtrat Lactobacillus dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Streptococcus, Staphylococcus aureus, dan Escerichia coli, bahkan filtrat yang sudah disimpan selama 6 bulan memiliki kemampuan sama. Lactobacillus juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri lain yang merugikan atau patogen (Tagg et al., 1976; Chassy, 1987). Goldin dan Gorbach (1992) mengatakan bahwa beberapa substansi antimikroba yang dihasilkan bakteri probiotik, misalnya L. acidophilus menghasilkan acidotin, acidophilin, bacteriocin, lactocidin, L. bulgaricus (bulgarican), L. plantarum (lactolin), L. brevis (lactobullin, lactobrevin), dan L. reuteri (rauterin). Beberapa kriteria penting untuk karakter fisiologi yang merupakan seleksi kelayakan bakteri sebagai produk probiotik antara lain uji pertumbuhan/resistensi bakteri probiotik pada pH rendah. Fetlinski dan Stepaniak (1994) menyebutkan bahwa dapat tidaknya suatu bakteri sebagai probiotik tergantung resistensi atau ketahanan probiotik terhadap pH rendah, garam empedu, dan kemampuan untuk hidup dalam sistem pencernaan. Berdasarkan hal di atas dilakukan penelitian ini, yang bertujuan untuk mendapatkan isolat Lactobacillus terseleksi sebagai kandidat probiotik dengan mengetahui resistensi/ketahanan hidup beberapa isolat bakteri Lactobacillus pada pH rendah.

    BAHAN DAN METODE Sampel makanan fermentasi Sampel makanan fermentasi berasal dari beberapa daerah di Indonesia, yaitu tongcai, minuman saguer, pindang ikan selar, dan sawi asin. Pada sampel-sampel makanan ini dilakukan isolasi menggunakan media GYP (Glucose Yeast Peptone) dengan komposisi dalam 1 L

    Alamat korespondensi: Jl.Ir. H.Juanda 18 Bogor 16002 Tel. +62-251-324006. Fax.: +62-251-325854 e-mail: noviknur@yahoo.com

    16

    B I O D I V E R S I T AS Vol. 7, No. 1, Januari 2006, hal. 15-17

    sebagai berikut: glukosa 10 g, yeast ekstrak 10 g, pepton 5 g, beef ekstrak 2 g, Na-acetat.H2O 1.4 g, salt solution 5 mL (salt solution: MgSO4.7H2O 0,1 g; MnSO4.4H2O 0,1 g; FeSO4.7H2O 0,1 g; NaCl 0,1 g; dH2O 50 mL) Tween 80 0,5 g, agar 20 g CaCO3 0,075 g/mL medium, dH2O 1 L. Media pemeliharaan isolat Lactobacillus adalah media MRS (de Man Rogosa Sharpe) agar (Oxoid), sedangkan media preculture dan pertumbuhan bakteri uji adalah media MRS Broth (Oxoid). Isolasi dan karakterisasi bakteri Lactobacillus Isolasi dilakukan dengan mengencerkan 1 g sampel dengan larutan saline (0,85% NaCl) secara duplo pada o media GYP. Inkubasi dilakukan pada suhu 30 C selama 2-3 hari. Zona jernih yang terbentuk diduga bakteri asam laktat. Selanjutnya dilakukan pewarnaaan gram dan uji katalase untuk mendapatkan bakteri Lactobacillus. Pewarnaan gram dilakukan menurut metode Hucker dan Conn dan uji aktivitas katalase dengan H2O2 3%. Reaksi katalase negatif apabila diteteskan pada sel bakteri namun tidak menunjukkan adanya busa atau buih setelah 1 menit. Karakter fisiologi: Resistensi Lactobacillus pada pH rendah Beberapa Lactobacillus yang diperoleh dari isolasi di atas ditanam pada media MRS Broth untuk digunakan o sebagai starter dan diinkubasi pada suhu 30 C selama 2-3 hari. Selanjutnya media MRS broth dimasukkan masingmasing ke dalam tabung sebanyak 20 mL. pH media diatur menurut perlakuan yaitu pH 2; pH 2,5; pH 3 dan pH 6,5 menggunakan pH-meter. Masing masing perlakuan diinokulasi dengan 10% starter. Sebagai kontrol adalah media MRS broth tanpa penambahan starter. Setelah diinkubasi selama 24, 48, 72, dan 96 jam dilakukan pengukuran OD (Optical Density) dengan Spektrofotometer ( = 600 nm). Pengukuran dilakukan dengan tiga ulangan HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil isolasi dan karakterisasi serta identifikasi pada sampel-sampel makanan fermentasi diperoleh empat isolat Lactobacillus, yaitu: TT2 (tongcai), Sg.Mnd.N2 (saguer), PSl1 (pindang ikan selar), dan S5 (sawi asin). Pengamatan terhadap bentuk morfologi dan fisiologi biak Lactobacillus uji disajikan pada Tabel 1.
    Tabel 1. Morfologi dan fisiologi bakteri Lactobacillus spp. Kode biak S5 Sg.Mnd.N2 PSl1 TT2 Asal Sawi asin Saguer Pindang selar Tongcai Gram + + + + Bentuk sel Rod Rod Rod Rod Reaksi katalase -

    1.5

    Absorbansi

    1 0.5 0 24 48 72 96

    kontrol pH 6.5 pH 2.0 pH 2.5 pH 3.0 Waktu inkubasi (jam)

    Gambar 1. Uji resistensi isolat bakteri Lactobacillus sp. yang diisolasi dari tongcai (TT2) pada pH rendah.
    1.4 1.2

    Absorbansi

    Kontrol pH 6.5 pH 2 pH 2,5 pH 3
    24 48 72 96

    1 0.8 0.6 0.4 0.2 0

    Waktu inkubasi (jam)

    Gambar 2. Uji resistensi isolat bakteri Lactobacillus sp. yang diisolasi dari minuman Saguer (Sg.Mnd.N2).

    1.4 1.2

    Absorbansi

    1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 24 48 72 96

    Kontrol pH 6.5 pH 2 pH 2,5 pH 3

    Waktu inkubasi (jam)

    Gambar 3. Uji resistensi isolat Lactobacillus sp. yang diisolasi dari pindang selar (PSL1) pada pH rendah.

    1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0

    Absorbansi

    Kontrol pH 6.5 pH 2 pH 2,5 pH 3 24 48 72 96

    Waktu inkubasi (jam)

    Empat isolat yang diisolasi merupakan bakteri Lactobacillus. Anguirre dan Colins (1993) menyatakan bahwa bakteri asam laktat terdiri atas 4 genus, yaitu Lactobacillus, Streptococcus, Leuconostoc, dan Pediococcus. Genus Lactobacillus mempunyai ciri-ciri: bakteri berbentuk batang/rod, gram positif, dan uji katalase negatif. Hasil uji resistensi isolat bakteri Lactobacillus yang diisolasi dari masing-masing makanan fermentasi pada beberapa taraf pH rendah disajikan pada Gambar 1-4. Pada Gambar 1, hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengukuran OD terhadap isolat Lactobacillus TT2 dengan perlakuan pH rendah (pH 2, pH 2,5 dan pH 3), nilai

    Gambar 4. Uji resistensi isolat bakteri Lactobacillus sp. yang diisolasi dari sawi asin (S5) pada pH rendah.

    absorbansinya relatif stabil, sehingga dapat dikatakan bahwa Lactobacillus ini resisten dan mampu mempertahankan hidupnya pada kondisi pH rendah. Kerapatan optik (OD) rata-rata berkisar antara 0,66-0,71. Conway et al. (1987) mengatakan bahwa bakteri asam laktat lebih toleran terhadap asam. Penelitiannya menggunakan L. acidiphillus mempunyai toleransi yang tinggi terhadap asam lambung dari pada L. delbrueckii subsp. Bulgaricus, yang lebih resisten terhadap S. salivarius subsp. Thermophillus. Secara in vitro ketahanan terhadap pH rendah tergantung






  • href="http://www.payooclub.com/pages/index.php?refid=hasan7226">payooclub.comborder="0"
    src="http://www.payooclub.com/images/banner.gif"/>











  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Gabung disini

  • Lactobacillus Acidophilus - How to Use Acidophilus Supplements




    Lactobacillus Acidophilus is found in many foods that use active cultures, usually found in yogurt or acidophilus milk. However, most people don't have enough lactobacillus acidophilus in their digestive tract, which can cause digestion problems.
    Find, Compare, and Buy Acidophilus in Seconds

    What Causes A Lack Of Acidophilus?

    Many things can cause a lack of lactobacillus acidophilus in the stomach. Alcohol consumption, high protein and high fat diets, sugary or processed food, pesticides, antacids, and antibiotics are just a few of the things that we consume every day that can contribute to diminished acidophilus populations in the stomach.

    Acidophilus
    This causes many unpleasant symptoms such as gas, bloating, and a higher risk of yeast infections. However, it is easy to repopulate the stomach with lactobacillus acidophilus with supplements. These supplements come in powdered, tablet, and capsule forms. There are also non-dairy formulas for those who are lactose intolerant.

    Acidophilus supplements should contain at least one billion bacteria per capsule. The bacteria should also be from a single strain. Otherwise, the lactobacillus acidophilus may be hostile to each other.
    Instructions/advice when using Acidophilus

    For adults, it is recommended to take two servings of lactobacillus acidophilus per day, usually between meals. Children should take one pill, or one tablespoon of powder, per day. For breastfed infants, make a paste out of the powder using breast milk or water, and apply it to the infant's mouth or put it around the nipples during feeding. For bottle fed infants, put one teaspoon in the baby's formula. In addition to this, there are other instructions for particular illnesses.

    • To treat urinary tract infections, you should take one pill four times a day. If you are on antibiotics to treat the urinary tract infection, please see below.

    • To treat diarrhea, you should take two pills three times a day with meals.

    • To treat irritable bowel syndrome, take two pills a day with meals.

    • To use acidophilus for yeast infection, acidophilus can be applied directly to the vagina using a douche. Also, studies have shown women who get a lot of acidophilus in their diet suffer from less yeast infections than those who do not.

    Interaction with antibiotics: If you are on antibiotic therapy, taking acidophilus supplements at the same time as the antibiotic may counteract the effects of both. However, antibiotics can do a lot of damage to the balance of flora in your intestines, which is why people taking antibiotics tend to experience gas, stomach cramps, and constipation.

    In the past, it was thought that lactobacillus acidophilus supplements should be discontinued during the antibiotic therapy, but recently this has changed. Many doctors suggest taking about four pills per day, taking it as far from the dosage of antibiotics as possible. The shortest duration should be about an hour. Be sure to consult your physician, though, because different antibiotics may cause different reactions with the acidophilus.
    Acidophilus supplements should be kept in a cool area, because heat can kill the bacteria. Refrigeration is fine, but they should never be frozen.



  • href="http://www.payooclub.com/pages/index.php?refid=hasan7226">payooclub.comborder="0"
    src="http://www.payooclub.com/images/banner.gif"/>











  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Klasifikasi Sapi Perah dan Bioteknologi Reproduksi


    Setelah kita mengenal beberapa kendala dalam tatalaksana pemeliharaan sapi perah sebagaimana fenomena 1-5 dan bahwa selama ini ternyata terdapat beberapa 'kesalahan' teknis yang tidak kita sadari dalam memahami dan menerapkannya. Antara lain flushing pakan dan masa kering kandang yang saling bertentatangan sehingga merugikan dan menyiksa sapi perah sebagai 'mitra kerja' kita memproduksi susu. Maka perlu kiranya menata ulang tatalaksana tersebut melalui pemberdayaan bioteknologi reproduksi. Sehingga didapat pola yang ideal dan bahkan menjadikannya sebagai penganeka ragaman (diversifikasi) atau aneka cabang usaha peternakan sapi di Indonesia.

    ANEKA USAHA TANI : SAPI PERAH, SAPI POTONG, SAPI BIBIT DAN BIBIT SAPI (BENIH/EMBRIO) DALAM SATU MANAJEMEN.

    Melalui pemberdayaan bioteknologi reproduksi, maka usaha ternak sapi meski dalam skala kecil sekalipun dapat sekaligus melakukan aneka cabang usaha. Sebagaimana kita ketahui dalam Quantitatively Indonesian FH Cows Milk Production terdapat 3 kategori/klasifikasi sapi perah, yaitu Foundation Stock/klas A produksi susu >6000 kg atau setara sekitar 20 liter/ekor/hari, Breeding Sock/klas B produksinya 5000-6000 kg atau setara sekitar 16-19 l/ek/hr dan Commercial Stock/klas C produksi 4000-5000 kg setara 13-15 l/ek/hr.

    Sapi perah klas A dipakai sebagai penghasil susu dan penghasil embrio mengacu pada flushing embrio tunggal setiap siklus birahi. Sapi ini tidak dibuntingkan untuk mengurangi beban fisiologis dan menghindari kendala fenomena. Produksi susu juga tidak perlu mengacu pada masa laktasi 305 hari, bisa lebih dari itu sepanjang manajemen pakan yang baik dan benar dipatuhi serta tidak usah memperhatikan masa kering karena tidak bunting. Biarkan produksi susu turun secara alami melewati kendala fenomena, baru setelah aman dibuntingkan untuk produksi susu masa laktasi berikutnya.

    Sapi perah klas B dipersiapkan untuk membentuk sapi komposit (dibahas episode berikutnya) sebagai induk resipien yang dibuntingkan melalui transfer embrio dari sapi perah klas A dan sapi induk parent stock yang melahirkan sapi potong bakalan komposit final stock (sedang dirintis realisasnya).

    Sapi perah klas C sementara belum terbentuk sapi induk komposit, dipakai sebagai induk resipien menerima kebuntingan dari sapi perah klas A. Selanjutnya sapi perah klas C ini diafkir atau dibiarkan punah secara alami, artinya tidak dikembangbiakkan karena tidak ekonomis. Transfer embrio (TE) dari sapi perah klas A pada sapi resipien mengacu pada prosedur embrio segar. Dalam keadaan terpaksa tidak ada resipien yang ideal waktu itu atau terkendala jarak melebihi 12 jam, maka ditempuh prosedur pengawetan dan penyimpanan embrio dingin segar (24-48 jam).

    Pembekuan embrio sedapat mungkin dihindari, kalaupun terpaksa ditempuh pembekuan metode cepat (vitrifikasi) atau manual bukan programmable embryo freezing machine (dibahas di episode yang akan datang). Dengan demikian dalam satu unit uaha atau kawasan usaha ternak sapi terdapat aneka cabang usaha yaitu susu segar, bibit sapi perah dan potong, sapi potong bakalan serta benih sapi (embrio) segar maupun beku. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkerjakan tenaga yang betul-betul ahli, yaitu dokter hewan. (bersambung)





  • href="http://www.payooclub.com/pages/index.php?refid=hasan7226">payooclub.comborder="0"
    src="http://www.payooclub.com/images/banner.gif"/>











  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Gabung disini