Bertani tanpa bahan kimia memberikan hasil tinggi



Sri Widiastuti - 10 May 2004 19:34 Hasil uji coba penanaman padi dengan pupuk kandang yang dilakukan oleh petani di Subang di lahan seluas 1.500 meter persegi memberikan hasil total sembilan kwintal gabah kering. Hasil panen ini lebih tinggi dari hasil sistem pertanian konvensional yang hanya menghasilkan tujuh kwintal gabah kering. Hingga kini hasilnya tidak dijual, tetapi untuk dikonsumsi sendiri dan sebagian akan dijadikan benih untuk musim tanam berikutnya. Lahan seluas 1500 meter persegi, kata kang Boy, sebenarnya bisa menghasilkan gabah kering sebanyak 12 kwintal. Namun karena 40 % areal terserang hama tikus, maka hanya diperoleh 5,5 kwintal gabah kering dengan kualitas baik. Sedangkan lahan yang terserang tikus, masih bisa menghasilkan 3,5 kwintal gabah kering, meskipun kualitasnya tidak sebaik yang tidak terserang. Uji coba ini dilakukan oleh Arinda, sebuah LSM pendamping petani di Subang. Arinda baru pertama kali melakukan kegiatan pertanian tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia buatan. Mereka menggunakan lahan milik H Rifai, yang berada di desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat dan terletak kurang lebih dua kilometer dari laut. Benih padi yang mereka gunakan adalah jenis IR 64, sebanyak delapan ons. Menurut Lilik Rusmana, koordinator lapangan kegiatan ini, pola tanam yang digunakan adalah Rancang Intensifikasi dengan jarak tanam antar bibit adalah 30 cm x 30 cm. Pola tanam ini mengikuti anjuran Kantor Pengawasan Penyuluhan Pertanian (KP3). Untuk pemupukan digunakan pupuk dari kotoran kambing dan sampah pasar (sisa ikan, sayuran) yang terlebih dahulu difermentasi dengan menggunakan zeolit, kata Garna Abdullah Ketua Arinda yang biasa disapa Kang Boy. Sedangkan untuk mengusir hama mereka menggunakan biopestisida cair yang terbuat dari tumbuhan yang beraroma menyengat. Riyanto, Ketua KP3, mengharapkan dengan keberhasilan ini Arinda juga dapat menjadi pemasar produk pertanian "organik" di wilayah Subang. Untuk mendukung pertanian tanpa kimia, KP3 akan mengajak masyarakat sekitarnya untuk bertani secara "organik," atau dalam Bahasa Sunda disebut malire tatanen buhun yang berarti melirik pertanian dahulu yang ramah lingkungan.


  • href="http://www.payooclub.com/pages/index.php?refid=hasan7226">payooclub.comborder="0"
    src="http://www.payooclub.com/images/banner.gif"/>











  • Gabung disini



  • Gabung disini



  • Gabung disini