Pengolahan Sampah Jadi Kompos

Diujicoba Pengolahan Sampah Jadi Kompos


JAKARTA --Pupuk kompos ini sangat bermanfaat untuk penyubur tanaman,
dan harganya pun relatif lebih murah. Suku Dinas Kebersihan Jakarta
Barat sedang melakukan uji coba pengolahan sampah menjadi pupuk
kompos. Uji coba pengolahan sampah menjadi kompos ini akan dilakukan
di daerah Duri Kosambi. Ini menunjukkan pendaur ulangan sampah di
Jakarta Barat sudah berjalan. Dari total sampah yang dibuang masyarakat,
hanya 40 persen yang berupa sampah kering. Sekitar 20 persen dari
bagian sampah kering tersebut, hanya 20 persen yang dapat diolah
menjadi pupuk kompos.
''Porsi yang dapat diolah memang baru sebagian kecil, namun jika berhasil
akan sangat membantu pengolahan sampah,'' tandas Kasudin Kebersihan
Jakarta Barat, Chairul Moekti kepada
Republika
. Di Jakarta Barat, Rabu
(7/7) Sedangkan sisanya berupa sampah basah masih bertumpuk di
tempat pembuangan akhir (TPA).
Pengolahan sampah menjadi kompos tersebut harus melalui proses
pemilahan di sumber pembuangan. ''Kami sangat membutuhkan bantuan
masyarakat untuk turut memilah-milah sampah,'' ujar Chairul. Pemilahan
sampah basah dan kering membutuhkan partisipasi masyarakat pada awal
pembuangan, agar proses pengolahan menjadi kompos dapat dipercepat.
Setelah menjadi pupuk kompos, hasilnya dapat berupa pelet atau pun
pupuk basah. Pupuk kompos ini sangat bermanfaat untuk penyubur
tanaman, dan harganya pun relatif lebih murah. Saat ini, teknologi lain
pengolahan sampah yakni melalui pembakaran serta membuat menjadi
briket
, yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar. ''Pengolahan
sampah menjadi bahan bakar masih berupa wacana, kami akan terus
mempelajarinya agar dapat diterapkan di ibu kota,'' kata Chairul.
Menurut Chairul, metode yang saat ini masih diterapkan adalah
penimbunan sampah berlapis. Pelapisan timbunan sampah tersebut
berdasar kemampuan penguraian bahan sampah. Sampah-sampah yang
lebih mudah terurai letaknya di lapisan paling dasar, kemudian lapisan
teratas yang paling sulit terurai.
Ia menambahkan, untuk pembuatan pupuk kompos, bahan sampah yang
sesuai yakni sampah daun dan ranting dari pepohonan yang kemudian
ditampung di bak dan kotak-kotak plastik untuk diproses menjadi pupuk
kompos. Untuk lebih mempercepat proses menjadi pupuk kompos,
dikembangkan pembuatan pupuk kompos dengan bantuan cacing tanah.

''Pembuatan pupuk kompos memang relatif mudah dan manfaatnya sangat
besar,'' ujar Chairul. Sampah dedaunan dan ranting dari pepohonan
dimasukkan bak penampungan. Agar proses dekomposisi berlangsung
optimal, tempat penampungan itu ditutup. Hal itu dilakukan untuk
menghindari terpaan sinar matahari dan guyuran hujan.
Sampah yang diproses menjadi kompos, tambahnya, harus dalam keadaan
basah, tetapi tidak sampai berair. Itu sebabnya bak sampah ditutup
sehingga sampah tidak cepat kering karena penguapan, atau terlalu basah
karena hujan. Agar pengomposan berlangsung merata, tumpukan sampah
harus dibolak-balik setidaknya seminggu sekali. Dalam waktu dua hingga
tiga bulan, tumpukan sampah itu akan terurai menjadi kompos.
Untuk pembuatan pupuk kompos dengan bantuan cacing, lanjut Chairul,
prosesnya tidak jauh berbeda dengan cara di atas. Sampah dedaunan dan
ranting diletakkan di kotak-kotak plastik dan diletakkan di rak susun.
Kotak-kotak itu bagian bawahnya diberi beberapa lubang untuk jalan
keluar air rembesan. Pada rak paling bawah ditempatkan tumpukan
sampah paling lama. Kemudian di atasnya sampah yang lebih baru, dan di
atasnya lagi sampah terbaru. Pada kotak paling bawah itulah diberi sedikit
tanah dan cacing tanah.
'Pengadaan cacing untuk mempercepat pembuatan kompos,'' ujarnya.
Penyiraman air dilakukan pada kotak di rak paling atas dengan jumlah
yang cukup, tidak berlebihan. Prinsipnya, penyiraman dilakukan agar
sampah dalam keadaan selalu basah. Air dari kotak paling atas akan
merembes ke bawah dan keluar melalui lubang-lubang di bawahnya. Air
kemudian menetes membasahi tumpukan sampah di kotak kedua, dan
seterusnya sampai di kotak ketiga.
Kondisi yang basah itulah memungkinkan cacing di kotak paling bawah
bertahan hidup sambil memakan dedaunan dan ranting. Apabila dedaunan
dan ranting itu telah terurai, cacing-cacing itu akan naik ke kotak kedua
melalui rambatan, dan menyusup masuk melalui lubang rembesan air.
Selanjutnya kotak ketiga diangkat dan dipindahkan, karena pupuk kompos
telah terbentuk dan siap dipakai. Sedangkan kotak pada rak kedua,
diturunkan ke rak ketiga, dan kotak pada rak pertama turun ke rak kedua.
Pada rak paling atas dapat ditempatkan tumpukan sampah baru.